Wednesday, January 9, 2013

‘Mbak, Aku Didoakan ya… Biar Cepet Sadar’


lutfianaOleh Lutfiana Wakhid
Selama bulan Ramadhan, antara tanggal 21 Juli s.d. 12 Agustus 2012, Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK) mengadakan Pelatihan Komunikasi yang dibagi dalam dua kelas, kelas Sabtu dan Minggu. Kelas Sabtu di Migrant Institute DDHK Haven Street Causeway Bay dan Kelas Minggu di Masjid Ammar Wan Chai.
Sebelumnya, pelatihan juga digelar di Macau tanggal 15 Juli 2012 di Caritas Library Macau. Trainernya, Asep Syamsul M. Romli alias Kang Romel, tak lain adalah Chief Editor DDHK News (www.ddhongkong.org/www.dompetdhuafa.hk). Selama sebulan lebih di Hong Kong, Kang Romel mengatakan, “Sambil ngantor di Kantor DDHK News yangh sebenarnya, di Hong Kong ini. Selama ini ‘kan ngantornya di rumah, di Bandung.”
Seperti Ramadhan tahun lalu, selain tugas liputan dari redaksi DDHK News aku juga menjadi relawan pengumpul zakat fitrah, maal, dan sedekah. Karena rumahku di Tai Po, aku fundraising di Tai Po, baru siangnya ke Causeway Bay sampai malam. Aku ikut sholat tarawih di Indonesian Building KJRI Hong Kong sekalian meliput acara.
Saya bersama tiga reporter DDHK News lainnya –Tati Tia Surati, Anita Sri Rahayu yang mudik bulan ini juga, Rima Khumaira– menjadi panitia pelaihan komunikasi. Makanya, fundraising tidak bisa maksimal seperti tahun lalu. General Manager DDHK, Ustadz Ahmad Fauzi Qosim, berpesan, biarpun semua reporter menjadi panitia event, “Dapur DDHK News harus tetap mengepul yaaaa…”
Usai acara, kami berlima (plus Kang Romel) kembali ke Kantor DDHK karena jarak antara Masjid Ammar Wan Chai dan Kantor DDHK di Jardine Bazaar Causeway Bay tidak terlalu jauh. Kami berjalan kaki melewati pasar Wan Chai, membawa perlengkapan, sambil ngobrol.
Hari minggu aku sebagai reporter DDHK News, akan tetapi di hari biasa, selain co kung yan (pramuwisma), aktivitasku ketika dalam perjalanan ke pasar Tai Po Market sebagai fundraising ZIS (Zakat, Infak, dan Sedekah). Banyak hal yang kutemui, suka dan duka, tapi itu semua menjadi tantangan.
Di hari biasa, ketika waktu kerja, pada sang lopan (sang majikan) aku tidak memakai kaos volunteer seragam volunteer zakat DDHK. Hal ini menjadikan teman-teman sulit mengenalku sebagai amil zakat DDHK. Tak segan-segan setiap orang yang aku temui aku tawari zakat fitrah di Dompet Dhuafa, sekaligus menawarkan “produk lain”, di antaranya zakat maal, sedekah, dan bantuan kemanusiaan untuk Muslim Rohingya.
Kebiasaan yang tak pernah aku lakukan yaitu ngumpul alias nongkrong di toko Indonesia. Namun, sekarang ini hal itu sering kulakukan, ikut ngumpul sama teman-teman, karena tempat yang ramai menjadi sasaran utamaku selain tempat pengiriman uang.
Sebelum berangkat ke pasar, aku sudah “koar-koar” bikin status di FB: “Fundraising on the road, Lutfi siap jembut zakat untuk wilayah Tai Po, call di 6578 sam em em yat”. Dari status FB-ku ini alhamdulilah banyak juga yang menghubungiku untuk membayar zakat, dengan bikin janji terlebih dahulu.
“Assalamualaikum Mbak Ayu, hai semuanya,” sambil tersenyum menyapa teman-teman yang lagi asyikngrumpi di sebuah toko. Mereka pun menjawab salamku dengan ramah. “Ayo zakat fitrah Mbak, saya dari DDHK.”
Salah satu dari mereka ada yang langsung bertanya, “Berapa Mbak zakat fitrah? Saya mau bayar zakat.” Ada juga yang bilang, “Saya sudah zakat di Indonesia, saya belum gajian, tidak bawa uang,” dan sebagainya.
Tak lupa aku pun menghampiri anak-anak tomboy berkaos oblong yang dirangkapi baju kotak-kotak sambil mengepulkan asap rokok. “Assalamualaikum. Mbak, zakat fitrah Mbak (sambil senyum)”.
“Wa’alaikumsalam,” jawab mereka dengan kompak. “Mbak, aku didoakan ya Mbak, biar cepet sadar,” celetuknya.  “Iya saya doakan setelah bayar zakat, selain zakat fitrah DDHK ada produk lain, yaitu zakat gaji 2,5% dari 37400 itu HK$93,5, ada bantuan kemanusiaan HK$ 20.” Mereka pun manggut-manggut yang berarti paham. Tapi ada juga yang bengong.
“Mbak, kalau udah bayar zakat fitrah, harus zakat gaji dan sedekah ya Mbak?” pertanyaan yang sangat polos dari teman satunya. Karena aku sendiri juga orang awam yang bukan lulusan ponpes dan masih harus belajar banyak, aku pun berusaha menjelaskan yang bisa diterima oleh akal. Apa itu zakat fitrah, zakat maal, dan sedekah.
“Zakat fitrah itu dibayarkan setahun sekali, di bulan ramadhan. Zakat gaji atau zakat profesi bisa dibayar sebulan sekali karena gaji kita HK$ 37400 maka 2,5% wajib dikeluarkan untuk membersihkan harta kita, berbeda dengan sedekah. Gampangnya, ibarat mengendarai sepeda motor, kita wajib punya SIM dan helm (sedekah), proteksi melidungi harta kita yang sudah dibersihkan, begitu Mbak,” kataku.
“Ooooo…” serempak suara mereka dan langsung keluarin uang dari dompet masing masing. “Mbak, sampean ta dungakno oleh bojo ganteng (mbak ta doakan dapat suami ganteng),” salah satu di antara mereka yang meeledekku, aku jadi tersipu malu sambil mengamini doa mereka.
Aku pun melanjutkan langkahku menuju tempat pengiriman uang, tepatnya di toko Candra Remittence Taipo. “Assalamualaikum, zakat fitrah Mbak,” sapaku. “Mau zakat di rumah Mbak, ini uangnya dikirim,” jawab mereka.
“Mbak cari nafkahnya di Hong Kong lebih afdolnya zakat fitrahnya juga di Hong Kong,” kataku. “Tapi biasanya keluarga saya dibayarin zakat di rumah Mbak,” mereka menimpaliku.
“Mbak kerja di Hong Kong, badan kotor dan kringetan mandinya di Hong Kong apa di Indonesia, Mbak?” tanyaku. “Ya jelas di Hong Kong lah Mbak, masak mandinya mau nunggu pulang ke Indonesia,” katanya.
“Makanya sekarang zakat di DDHK,” kataku. “Iya iya, saya zakat Mbak….” kata mereka. Alhamdulilah berhasil, dalam hatiku sambil tersenyum.
Alhamdulillah mamaku tidak pernah mempermasalahkan aku telat pulang belanja.
Kadang aku juga sering mendapat cibiran dari mereka dengan melempar senyum yang masam. Aku pun tetap berusaha tersenyum manis dan berusaha bisa mengajak mereka untuk mau membayar zakat.
Aku ucapkan terima kasih banyak kepada teman-teman yang sudah membayar zakat melaluiku dan mohon maaf mungkin ajakanku untuk membayar zakat agak memaksa, hehehe….. Buat teman-teman volunteer zakat DDHK, tetap semangat ya, kayau!  Salam santun dariku dan mohon maaf lahir batin. (Lutfiana Wakhid, reporter DDHK News/ddhongkong.org).*

No comments:

Post a Comment