Allah SWT adalah dokter yang sebenarnya. Ketika Dia menerjemahkan konsep-konsep kedokteranya, Dia pun menitipkan konsep-konsep Ilahi kepada Rasulullah Saw sehingga Rasulullah Saw pun seorang dokter.
Hal itu disampaikan oleh Ustadz Abu Syadza Rabbani (praktisi Thibbun Nabawi dari Solo) pada kajian online via teleconference bersama santri Institut Thibbun Nabawi Hong Kong (ITN HK), Selasa (15/1) malam.
Dikatakannya, Muhammad Saw bukan hanya seorang nabi, tetapi beliau juga seorang dokter . Artinya, selain menjalankan risalah kenabianya yang beliau emban, Rasulullah Saw juga mempraktikkan pengobatan dan diikuti oleh para sahabat, ulama, dan umatnya sampai hari ini masih dalam lebel Thibbun Nabawi.
“Thibbun Nabawi ini terus dikembangkan pada zaman Nabi pada sahabat sampai saat ini,” jelasnya. “Pengembangan-pengembangan konsep kedokteran nabi ini akhirnya memunculkan tokoh-tokoh ulama dan dokter.”
Dalam sebuah hadits dikatakan, ada seseorang laki-laki menghadap Nabi Saw. Ia berkata, “Saudaraku mengeluhkan sakit pada perutnya.” Nabi bersabda: “Minumkan ia madu.” Orang itu datang untuk kedua kalinya. Nabi bersabda, “Minumkan ia madu.” Orang itu datang lagi pada kali yang ketiga, Nabi tetap berkata: “Minumkan ia madu.” Setelah itu, orang itu datang lagi dan menyatakan: “Aku telah melakukannya (namun belum sembuh juga)”. Nabi bersabda: “Allah Mahabenar dan perut saudaramu itu dusta. Minumkan lagi madu.” Orang itu meminumkannya lagi, maka saudaranya pun sembuh.” (HR Bukhari dan Muslim)
No comments:
Post a Comment