
Minggu pagi dari Tai Po, Bus No. 307 jurusan Central membawaku dengan laju yang kencang. Empat puluh lima menit tampak dari kejauhan terlihat Hong Kong Central Library. Aku pun siap-siap turun dan memencet tombol merah di sebelahku. Aku berhenti di Wan Chai, dekat imigrasi Hong Kong. Untuk menuju lokasi Masjid Ammar Wan Chai, aku memilih jalan kaki yang membutuhkan waktu sekitar 15 menit.
Sebelumnya, Sabtu malam,
Chief Editor-ku memintaku untuk wawancara Ustadz Abdul Muhaemin Karim, eksekutif dakwah Islamic Union of Hong Kong (IUHK) via
inbox facebook. Dalam perjalanan HP-ku bergetar. Kuraih HP yang kuselipkan di
puilong-ku (tas punggung), ternyata Tati, temanku sesama reporter, kirim SMS. Ia titip pertanyaan.
Sambil ngos-ngosan, alhamdulilah nyampai di pintu gerbang Masjid Ammar Wan Chai dan disambut dua orang berjubah putih, ternyata di Aula Masjid lantai 6 sedang ada event dan pembicaranya adalah Ust. Muhaemin. Alhamdulilah, tak henti-hentinya aku bersyukur, tanpa bikin janji sebelumnya Allah telah memberi kemudahan, mengingat Ust. Muhaemin yang supersibuk dengan agenda dakwah yang sangat padat.
Aku langsung masuk lift menuju lantai 6 dan duduk di atas karpet hijau yang digelar di lantai bersama jamaah lain. Rupanya, acara sudah dimulai. Tiba-tiba seorang panitia menghampiriku dan mengajakku duduk di kursi depan. Tak lama kemudian, panitia lain memberiku sebotol air dan kue yang ditaruh di kotak bermotif batik.
Aku mengikuti tausiyah yang disampaikan Ust. Muhaemin hingga selesai, pukul 12.30. Usai menutup tausiyahnya dengan doa, ia pamit karena sudah ditunggu orang dan keluar menuju lantai 7 (office). Aku pun membuntutinya dari belakang. Ust. Muhaemin yang supersibuk dan murah senyum ini menyapaku dengan ramah, “Ada apa, Lutfi?”. Aku pun menjawab, “Maaf, Bapak, saya minta waktunya sebentar untuk wawancara”. “Tapi saya sudah di tunggu orang.” “Iya, Bapak, saya minta waktu lima menit”. Alhamdulilah, Ust. Muhaemin mempersilakanku untuk wawancara.
Usai wawancara, aku langsung turun. Sesampai di lantai 5, kantin halal food, aku ketemu Mbak Bella, staf KJRI Hong Kong. Kami pun ngobrol, saling menanyakan kabar. Waktu semakin siang. Adzan Zhuhur berkumandang. Mbak Bella pamit pulang. Aku pun langsung menuju lantai 1 untuk mengambil air wudhu.
Setelah berwudhu, aku kembali menuju lantai 3, ladys prayer hall, ternyata masjid sudah penuh dengan jamaah yang 97 % adalah teman-teman BMI Hong Kong yang libur hari Minggu. Aku kebagian tempat yang paling belakang. Langsung kupakai mukena dan sholat sunnah. Ketika mendengar aba-aba sang imam untuk rapikan dan rapatkan shaf, aku bergeser, maju, merapatkan shaf depanku.
Ternyata, di sebelahku gadis kecil Pakistan usia sekita 6 tahun dan 11 tahunan. Dia memandangiku dengan senyum. Aku pun membalasnya dengan senyum pula. Pada rakaat pertama, dia yang berdiri di sampingku, tiba-tiba tubuh kecil yang mungi ilu menyenggolkan tubuhnya ke arahku. Dengan spontan badanku ikut bergoyang. Pikirku, dia tidak sengaja. Di saat sujud, dia juga dengan ulahnya yang lucu dan “jail”, mengintipku sambil sedikit membuka mukenaku. Sholatku mulai tidak konsentrasi karena ulah si gadis kecil Pakistan itu.
Mungkin dia mengira aku orang bangsanya, sehingga ingin mengajakku becanda atau main-main. Sholatku saat itu benar-benar tidak konsentrasi, hanya mengikuti gerakan dan aba-aba sang imam. Bagaimana bisa konsentrasi, di saat bangun dari sujud, mukenaku diduduki si gadis kecil pakistan itu! So pasti aku tidak bisa berdiri dengan sempurna alias agak membungkuk. Aku bukannya kesal denganya, tapi malah pingin ketawa, lucu! Bagaimana tidak ketawa, setelah badanku membungkuk, dianya melongokkan mukanya ke arahku sambil mengedipkan matanya yang berbinar dan beralis tebal itu.
Di rakaat selanjutnya pun dia tetap dengan ulahnya. Tidak hanya menyenggol tubuhku, tapi sedikit menendang! Aku bukan konsentrasi pada sholatku, akan tetapi aku lebih konsentrasi bagaimana agar badanku tidak roboh ke barisan sebelahku. Rakaat demi rakaat, dia tetap dengan ulah jahil dan lucunya yang selalu menengok wajahku di saat aku rukuk dan mengintipku saat aku sujud.
Usai salam, ibunya menegurnya dengan bahasa yang tidak aku mengerti. Ibunya menyapaku, seigatku begini: “Māpha karanā mērī śarāratī laṛakā”, seperti bahasa di kuci kuci hutahe, ga tau lah artinya apa dan aku pun membalasnya dengan menjawab, “Sorry, i do not understand the language, I am Indonesian.” “Oh sorry,” katanya sambil mengajak anaknya pergi. Sebelum dia pergi, kami pun sempat bersalaman. (Lutfiana Wakhid, BMI Hong Kong/Reporter DDHK News/ddhongkong.org).*