Thursday, August 30, 2012

Nan Lian Garden, Taman Impian ala Dongeng Tiongkok

Nan Liang GardenJika kita ingin berlibur dengan suasana yang asri dan tenang dengan suasana negeri dongeng Tiongkok yang indah, seperti di film-film kolosal yang mungkin kita sering melihatnya di layar kaca, tidak perlu jauh-jauh ke Tiongkok, karena tempat ini berada di Nan Lian Garden, Hong Kong. Yuk, kita tengok seperti apa sih Nan Lian Garden?
Berada di dalam taman ini seolah-olah kita menjadi permaisuri yang sedang berjalan-jalan menikmati indahnya taman, karena mata kita dimanjakan dengan pemandangan yang sangat indah, banyak bunga, lengkap dengan rumah kuno gaya Tiongkok yang eksotis. Semilir angin yang sejuk dan kicauan burung yang bersahutan membuat suasana bertambah nyaman.
Nan Lian Garden adalah taman klasik di Diamond Hill, Kowloon, Hong Kong. Taman ini memiliki luas sekitar 3,5 hektar. Taman ini dirancang seperti taman bunga dengan gaya istana Dinasti Tang bergaya dengan bukit bukit fitur air, batu, dan struktur kayu.
Konon, taman ini adalah proyek bersama dari Chi Lin Nunnery dan Pemerintah Hong Kong. Taman ini dibuka untuk umum sejak 14 Nopember 2006.
Selain melihat bunga-bunga dan rumah-rumah gaya Tiongkok kuno, kita juga bisa menikmati indahnya deretan jembatan dengan gaya oriental dengan warna-warna teduh, seperti hijau, putih, dan merah yang dinamis dan mampu berpadu dengan aliran air yang ada di bawahnya.
Di Nan Lian Garden ini tersedia toko suvenir, dan restoran makanan vegetarian –yang insya Allah halal. Untuk melengkapi keindahan Taman Nan Lian, di beberapa sudut juga tersimpan beberapa galeri yang berisi aneka teh bergaya Cina, dilengkapi dengan aneka perlengkapannya, karena kebiasaan orang Cina yang khas dengan tradisi minum teh yang biasa dikenal dengan Yam Cha.
Nan Lian Garden buka dari jam 07.00 pagi hingga 09.00 malam setiap hari. Untuk berkunjung ke tempat ini kita tidak perlu mengeluakan biaya alias gratis. Hanya saja, pengunjung untuk diminta mematuhi peraturan khusus untuk menjaga keindahan taman.
Bagi pengunjung berkelompok untuk 20 orang harus membuat janji sebelumnya untuk kunjungan apa pun. Aplikasi melalui Kantor taman melalui email info@nlgarden.org fax 852 3658 9424 paling tidak lima hari sebelum kunjungan. Grup tidak boleh dari 200 orang. Taman ini bisa menampung 1.000 orang sekaligus.
Untuk menuju ke lokasi sangatlah mudah. Dari Tai Po bisa naik Bus 75X, kalau naik MTR melalui MTR Diamond Hill, cari exit C-2, berjalan sekitar 10 menit dan ikuti penunjuknya.
Alamat Nan Lian Garden di 60 Fung Tak Road, Diamond Hill, Wong Tai Sin, Kowloon. Untuk info lebih lanjut bisa hubungi Hotlne 2329 8811. (Lutfiana Wakhid/ddhongkong.org).*

Ketika Cinta Bersemi di Yahoo Messenger

Yahoo MessengerSINTA nama panggilanku. Aku bekerja di Hong Kong sejak tahun 2007. Awal datang ke Hong Kong aku masih belum banyak teman karena aku termasuk orang tipe pendiam, “gaptek” (gagap teknologi), dan saat itu aku harus mengalami potongan gaji selama tujuh bulan dan tanpa libur.
Tugasku menjaga seorang bayi yang baru lahir, di daerah Shatin. Majikanku melarangku telepon dengan alasan takut bayinya kurang terurus gara-gara telepon. Aku pun bisa mematuhi peraturan itu.
Tujuh bulan tanpa libur telah kulalui. Libur pertamaku aku ke daerah Causeway Bay, menemui tetanggaku yang biasa menghabiskan waktu libur di Victoria Park. Ia mengajakku jalan jalan. Aku waktu itu masih ngikut saja karena aku tidak tahu arah dan belum hafal daerah Hong Kong.
Libur berikutnya aku pun menemui tetanggaku. Aku diajak ke sebuah warnet di daerah Causeway Bay. Ternyata hampir 90 persen yang lagi ngenet para BMI. Aku pun merasa… “Waaaah……. keren, bisa mainan komputer”. Aku tanya kepada tetanggaku, “Mbak, kita ngapain ke sini?”. Ia jawab, “Kita main”. “Aku ‘ga bisa Mbak.” “Jangan khawatir, nanti ‘ta ajari.”. Aku pun merasa senang.
Aku pun dibuatkan akun di Yahoo! Messengger (YM) dan diajarinya. Saat itu juga, aku langsung bisa dan langsung menggandrungi YM yang selama ini tidak aku kenal. Aku mulai banyak teman di dunia maya. Sungguh mengasyikkan chating di YM kala itu. Aku banyak teman dari berbagai negara –Korea, Jepang, Taiwan, juga Malaysia.
Di YM itulah akhirnya aku kenal dengan Rama, TKI asal Banyuwangi yang sedang bekerja di Tokyo, Jepang. Setiap minggu aku chating dengan Rama, sekadar ngobrol dan cerita-cerita. Suatu ketika Rama menyatakan suka padaku. Aku pun begitu. Pepatah Jawa bilang,  Tresno jalaran soko kulino (cinta karena terbiasa). Saat itulah aku terima cinta Rama dan resmi “pacaran” di YM dan saling tukar nomor telepon.
Tak terasa, perkenalanku dengan Rama hampir tiga tahun. Dia sangat perhatian dan sayang sama aku. Di sela sela waktu senggangnya dia selalu menghubungiku via telepon. Dia tipe laki-laki yang tidak pelit. Ia sukangasih surprise dengan ngirim hadiah-hadiah kecil untukku. Pernah juga saat aku mendadak butuh uang dan bilang pinjam uang, aku langsung dikirimi uang sekitar tiga jutaan.
Kami pun berencana pulang ke tanah air untuk menikah. Rama pesan ke aku finish kontrak, jangan nambah lagi, kita pulang, nikah. Aku pun setuju, walaupun saat itu kontraku kurang setahun dan kontrak dia kurang 1,5 tahun. Aku yang lebih awal pulang duluan, jarak satu tahun dengan dia.
Finish kontrak pada akhir tahun 2011. Aku pun pulang ke tanah air mengikuti saran Rama dan sudah menjadi keputusanku untuk menunggu kepulangan Rama dari Jepang. Hampir setahun aku berada di tanah air dan uang pun makin lama makin menipis karena tidak ada pemasukan.
Penantian pun telah tiba, Rama pulang dari Jepang. Dia berkunjung ke rumahku untuk bersilaturahmi dengan keluargaku. Aku senang. Kupikir dia akan segera melamar dan menikahiku. Ternyata tidak. Aku sebagai perempuan hanya menunggu dan menunggu dengan perasaan gelisah dan galau.
Setelah dari rumahku, ada sedikit perubahan sikapnya. Beberapa bulan kemudian, aku memberanikan diri menanyakan kepada Rama, kapan akan menikahiku. Aku ingin kita menikah sekarang. Aku sudah menunggumu setahun di Indonesia. Ternyata, jawabnya: “Aku mau menikahimu sekarang juga, asal kamu mengembalikan uang yang pernah kau pinjam tiga juta, sekarang juga!” Aku bagaikan disambar petir, kaget, dan hancur hatiku. Sikap Rama yang dulu lembut, penyayang, baik, dan ‘ga pernah peritungan, sekarang berubah.
Aku berusaha bersabar dan selalu berdoa mengharap pada Allah agar Rama kembali sayang padaku seperti dulu dan berharap dia menikahiku. Semua kluargaku sudah mengetahui hubunganku dengan Rama sejak aku di Hong Kong.
Tiga bulan kemudian, Allah mengabulkan doaku. Rama datang melamarku dan menikahiku. Aku bahagia sekali waktu itu, biarpun acara pernikahanku sangat sederhana, hanya dihadiri keluargaku.
Setelah itu aku diboyong ke rumahnya. Kebahagiaan yang kurasakan makin hari makin berkurang dan berubah jadi tekanan batin tersendiri. Rama, suamiku, tidak seperti Rama yang kukenal di YM dulu. Sikapnya cuek dan dingin. Aku pun ingin merasakan kebahagiaan seorang istri yang disayang suami. Dia bersikap hangat padaku ketika dia “minta jatah”. Akan tetapi di luar itu, semua sikapnya dingin, bahkan seperti orang yang tidak dikenal. Kadang ia menyuruhku seenaknya saja, memperlakukanku seperti seorang pembantu. Dia benar-benar tidak menghargaiku.
Suatu ketika, aku diajak  keluar rumah dengan mengendarai sedah hitam. Aku senang sekali diajak suami keluar rumah. Kupikir jalan-jalan atau shopping, memanjakanku. Ternyata aku diajak ke bank untuk memasukkan uang untuk ditabung. Seumur hidup baru sekali aku melihat beberapa tumpukan uang. Aku pun senang dan bangga melihat uang suamiku banyak.
Ternyata, sesampai di rumah, sikap suami kembali dingin. Aku berusaha untuk berkomunikasi dengan baik, tetapi aku mendapat respon yang kurang baik. Aku pun mengambil kesimpulan sikap yang membuat Rama berubah terhadapku karena keadaan ekonomiku yang tidak sesuai harapanya. Aku tidak punya apa-apa. Mungkin yang dipikirkan Rama selama ini setiap orang yang bekerja di Hong Kong punya uang banyak.
Aku mencoba minta izin ke Rama untuk kembali bekerja di Hong Kong. Saat itu juga Rama memberiku izin. Bukan senang yang kurasakan mendapat izin itu, namun hatiku ingin menjerit dan menangis mendengar dia mengizinkan aku pergi ke Hong Kong. Dalam hatiku, apa maksud dia menikahiku, apa karena terpaksa, dan sikapnya yang dingin selama ini karena dia kecewa dengan keadaanku yang tidak berduit, padahal dari luar negeri, sedang dia ratusan juta yang dia bawa dari Jepang. Seharusnya pengantin baru merasakan bulan madu, tapi yang kurasakan “bulan empedu”.
Aku berharap teman-teman berhati-hati berkenalan di YM, Facebook,Twitter, Skype, dan media online lainnya. Kebanyakan orang menganggap BMI Hong Kong itu berduit. Semua yang terjadi, kuambil hikmahnya. (Seperti dituturkan kepada Lutfiana Wakhid/ddhongkong.org).*

Dikira Orang Pakistan, Aku Dipeluk Teh Ninih!


lutfiana wakhidSelama dalam kasus labour, imigrasi Hong Kong melarang siapa pun untuk bekerja karena tidak mempunyai visa kerja. Jika bekerja dan ketahuan polisi imigrasi, bisa masuk penjara!
Hidup di luar, tanpa majikan, dengan uang pas-pasan sisa 1 bulan gaji dan sisa uang yang telah kukirim kepada orangtuaku di kampung, membuatku nekad menerima tawaran kerja part time, biarpun berisiko.
Tinggal di Asrama Asburi dengan beberapa teman BMI yang juga bermasalah tidak membuatku sedih karena tidak hanya aku yang mengalami masalah. Kami tidur beralaskan kasur tipis yang digelar di lantai saat malam menjelang tidur dan dilipat rapi saat bagun tidur.
Tersedia kamar dan ranjang bertingkat, tapi sudah ada penghuninya, yaitu mereka yang sudah lama tinggal di asrama –bisa di bilang “kepala suku”. Aku dan teman-teman yang masih baru harus tidur di lantai, berdesak-desakan, bak ikan pindang dalam keranjang. Aku sih oke-oke saja tidur di mana pun, bisa nyenyak, asal sudah nguantuk puol! Begitu juga soal makanan, tidak pilih-pilih, yang penting halal.
Suatu ketika aku ditawari teman untuk kerja part time, sama majikan yang pidah rumah. Satu jamnya HKD 50, kalau 5 jam tinggal mengalikan saja. Aku mulai kerja dari jam 8 pagi sampai jam 3 siang.
Tahu sendiri yang namanya pindahan rumah. Banyak barang diangkut ke rumah baru, tidak ubahnya kerjaku seperti tukang angkut barang, juga membersihkan rumah baru, tapi aku tidak menerima kerja di luar rumah yang berbahaya bagiku.
Semua pekerjaanku kukerjakan dengan senang, lillahita’ala, sambil berseliweran di benakku gambar uang dan uang. Alhamdulilah, bisa nyambung hidup di Hong Kong yang “semuanya” harus dengan uang.
Setengah hari kerja part time mendapat uang HKD 400 yang seharusnya aku terima HKD 350. Si bos baik, jadi di tambah 50 untuk ongkos pulang ke Causeway Bay.
Sehari dapat part time, lima hari menganggur. Begitu seterusnya. Alhamdulillah, pengeluaran bisa sedikit terkurangi karena aku suka puasa sunnah Senin dan Kamis. Ternyata puasa sunnah Senin dan Kamis, selain dapat pahala, juga bisa menghemat uang. Aku selalu berdoa, Ya Allah, apa yang aku lakukan ikhlas karena-Mu, tapi maafkan hamba-Mu jika kadang puasa yang kulakukan karena aku tidak punya uang, tapi saya ikhlas Ya Rabb.
Masih teringat betul hari Senin badanku terasa kurang enak. Usai shalat Subuh aku tidur sampai waktu menjelang Dhuha. Aku bangun dan sholat Duha lalu bermalas-malasan sampai menjelang Dhuhur . Tepat jam 1 siang aku bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri, persiapan shalat Dhuhur.
Di  asrama kalau siang  tidak ada orang yang antre di kamar mandi. Kalau pagi aku lebih memilih pergi ke kamar mandi umum di Victoria Park yang biasa dipakai orang-orang mandi setelah berolahraga.
Usai shalat Dhuhur, tepat jam 2 siang, aku berjalan kaki menujuMasjid Ammar Wan Chai, 40 Oi Kwan Road Wn Chai . Sendirian.
Sampai di masjid lantai 3, teman-teman Halaqoh sudah berkumpul, sedang mendengarkan tausiyah yang disampaikan oleh Teh Ninih Mutmainah dari Bandung (mantan istri Aa Gym). Kuucapkan salam. Aku mendekati mereka. Semua jamaah membalas salamku.
Hari itu pertama kali aku melihat dengan jarak dekat Teh Ninih. Aku termasuk jamaah yang datangnya terlambat dan paling akhir. Di hadapan para jamaah, Teh Ninik bilang, “Orang ini apa ngerti dengan bahasaa kita ya, kok ikut bergabung dengan kita?”. Oh iya, di masjid Ammar Wanchai banyak sekali wanita Muslimah asal Pakistan. Mungkin mereka mengira aku juga orang Pakistan!
Dengan senyum aku menjawab, ” Saya orang Indonesia, Bu Ustadzah, bukan orang Pakistan”. Spontan seluruh jamaah memandang ke arahku. Teh Ninih lalu bilang,  “Subhanallah, saya kira Mbak orang Pakistan, ke sini, kedepan duduk bareng saya!”
teh ninihAku pun ke depan dan bersalaman. Teh Ninih memeluk, mencium pipiku, dan sambil tersenyum berkata, “Mohon maaf ya, Mbak…!” Aku jawab, “Ga apa-apa, Bu…!” sambil tersenyum sedikit lebar, sampe kelihatan pagar kawat gigiku alias behelku.
Semalam aku mimpi apa ya, kok ada ustadzah mencium pipiku! Untung aku berangkat mandi dulu!
Usai pengajian dan shalat Ashar berjamaah, pengurus mengajak Teh Ninih yang datang ke Hong Kong bersama adiknya mengajak jalan-jalan ke The Peak. Aku pun diajaknya karena aku juga belum pernah kesana.
Victoria Peak adalah gunung di Hong Kong, dikenal juga sebagai Gunung Austin, gunung tertinggi di HK dengan ketinggian 552 m (1.1811 kaki). The Peak mempunyai daya tarik wisata yang menawarkan pemandangan tengah Victoria Harbour dan pulau-pulau di sekitarnya. Banyak tempat indah di dalamnya. Juga ada miniatur orang-orang terkenal di dunia (museum lilin Madame Tussauds Hong Kong) dan shoping mall-nya.
MEMASUKI bulan Ramadhan, tepatnya pertengahan Agustus 2007, aku begitu senang. Aku bahagia dengan datangnya bulan yang penuh berkah dan ampunan itu. Hari-hariku kuhabiskan di masjid. Setelah sholat Dhuha di asrama, pasti aku ke masjid sambil membawa tas berisi Al-Quran dengan terjemahan bahasa Indonesia.
Seperti biasa, memasuki masjid aku selalu mengucapkan salam kepada mereka yang ada di dalam masjid. Mereka menjawab salamku, tapi sama sekali tidak pernah mengajakku ngobrol! Aku pun memilih diam dan duduk di kursi tempat orang tua untuk sholat yang sudah tidak mampu berdiri. Aku duduk di situ sambil mengaji dengan suara pelan.
Terdengar suara teman-teman yang lagi asyik ngobrol, sepertinya sedang membicarakanku. Aku tetap meneruskan bacaan Al-Quranku. Terdengar dengan jelas, salah satu di antara mereka bilang, “Orang itu yang dibaca kok Al-Quran terjemahan Indonesia ya, apa dia bisa baca-tulis dan ngerti?” Teman yang satunya menimpali, “Yang mana sih?”
“Yang itu tuh, duduk di tempat duduknya org tua untuk sholat,” temannya berusaha menjelaskan. “Oooo….. Kamu kok tahu kalau yang dibaca Al-Quran dengan terjemahan bahasa Indonesia?” “Ya aku tadi lewat di sampingnya”.
Setelah selesei mengaji, kututup Al-Quranku dan kucium, lalu kumasukkan ke tas. Aku tersenyum menoleh ke arah mereka yang lagi asyik ngobrol dan menyapa mereka. “Mbak, saya orang Indonesia lho….” Mereka serentak seperti paduan suara “Haaaaaaaaaaa……..! Hehehe maaf ya, Mbak, dengar kita ngomongin Mbak ya?” “Gak apa-apa,” jawabku dengan senyum.
Usai shalat Maghrib dan berbuka puasa di kantin masjid lantai 5, jika ada nasi kotak lebih, petugas masjid sering menawariku bawa nasi untuk sahur. Aku pun menerima dengan senang hati. Aku selalu mengucapkan emkoi sai (terima kasih) kepada wanita setengah baya yang ada di kantin itu. Aku pergi meninggalkan masjid dan berjalan menuju Mushola Al-Fallah KJRI, di lantai 4 Indonesian Building. Aku shalat Isya dan Tarawih di sana.
Sampai di asrama, tiba-tiba HP-ku bergetar. Aku pun mengangkatnya.Ternyata temanku, orang Pati, Jawa Tengah. Ia menawarkan kerja part time, menjaga dan mengurus makanan seorang nenek selama seminggu di daerak Chi Fu Fa Yuen Pok Fulam, karena pembantunya dan majikan muda di Rumah Sakit.
Bayarannya HKD 120 per hari. Aku merasa senang kerja part time di situ karena orangnya baik. Untuk masakan juga gampang. Siang hari terakhir aku part time tetangga flat sebelah, seorang kakek 85 tahun, melakukan bunuh diri dengan meloncat dari jendela kamar. Sang pembantu yang juga temeaku langsung pencet No. 999, nomor gawat-darurat kepolisian Hong Kong.
Beberapa menit kemudian, polisi datang. Jumlahnya 10 orang lebih, dengan ambulans. Aku menengok dari jendela ruang tamu (rumah tempatku kerja di lantai 20/F). Polisi mengangkat tubuh tua renta yang tergeletak di taman bawah building. Kemungkinan besar dia sudah mati.
Beberapa polisi memeriksa rumah tempat tinggalnya, juga mengintograsi sang pembantunya. Oh iya, temenku itu menjaga dua orang manula, kakek dan nenek.
Salah satu polisi juga menanyai penghuni rumah di sekitar, di flat kami, termasuk di tempatku bekerja itu.
Ting Tong ting tong! Bunyi pintu masuk rumahku berbunyi. Aku pun berjalan menuju pintu dan mengintip dari lobang pintu yang kecil itu. Hatiku saat itu berdebar-debar, ketakutan, kok ada polisi ke sini? Bagaimana kalau ia menangkapku karen aku tidak punya visa kerja? Bisa berabe masuk penjara! Oh tidak! Ya Allah, lindungi aku.
Aku masuk ke dalam dan memberitahukan kepada nenek yang masih sehat itu, bahwa di luar ada polisi. Aku masuk kamar mandi untuk bersembunyi dan tak henti-hentinya berdoa.
Usai melayani polisi, nenek menyuruhku keluar dari kamar mandi. “Lulu, jut lei lah jak yan cao colah (Lulu keluarlah, polisi sudah pergi)!” Dengan tubuh masih bergetar, aku pun membuka pintu kamar mandi sambil mengucapkan hamdalah.
Aku ngobrol sama nenek yang masih “genit” itu. Biarpun usianya hampir 90 tahun, tapi dia sehat. Dia banyak cerita tentang tetangganya, si kakek yang melakukan terjun bebas itu. Dikatakannya, kakek itu bukan menguji kehebatan ilmu, tapi sengaja bunuh diri karena ingin mati. Penyebabnya, ia sudah bertahun-tahun sakit. Konon dia punya anak laki-laki yang kerja di pemerintahan Hong Kong dengan gaji yang cukup tinggi, tetapi dia tidak tinggal bersama orang tuanya. Orang tuanya hanya ditemani seorang pembantu dari Indonesia.
Dulu si kakek itu juga pernah akan melakukan bunuh diri saat sakitnya kambuh, tapi rencana bunuh dirinya gagal karena diketahui oleh pembantunya.
Usai makan malam dengan sang majikan, aku pun berpamitan pulang. Dengan senang hati aku terima uangpart time selama seminggu. Alhamdulilah. Tak henti-hentinya aku bersyukur. Sesekali aku juga teringat kejadian siang tadi. Aku jadi banyak memikirkan tentang untuk apa hidup dan memikirkan kematian. (Lutfiana Wakhid/ddhongkong.org).*

Thursday, August 23, 2012

Dikira Orang Arab, Buta Hukum, dan Digaji Underpay


lutfiana wakhidOleh Lutfiana Wakhid
Menjadi TKW atau BMI di Hong Kong bukanlan cita-citaku. Tapi itulah yang terjadi padaku. Lulus SMP, aku mendaftarkan diri ke SPK (Sekolah Perawat Kesehatan) Claket Malang. Aku lulus uji kesehatan dan fisik. Dua hari kemudian Ujian Tes Tulis selama empat hari untuk beberapa mata pelajaran.
Alhamdulilah, semua mata pelajaran aku bisa menjawabnya dengan baik dan aku yakin 90% jawabanku benar. Karena persiapanku begitu matang dan aku tidak merasa kesulitan dalam menjawab soal.
Saatnya pengumuman pelulusan ujian tes tulis, kucari cari namaku di papan pengumuman, tapi tidak ada. Kucoba cari di papan sebelah, siapa tahu ada, ternyata tak ada juga. Aku masih belum yakin, kubaca lagi satu per satu. Tidak ada namaku tertulis di situ.
Aku pulang dengan menitikkan air mata, karen aku sangat berminat untuk sekolah di sana. Akhirnya, aku mendaftarkan diri di SMK PGRI Turen. Mau daftar di SMU Negeri sudah tutup.
Lulus SMK ingin melanjutkan kuliah. Lagi-lagi harus terhalang dengan biaya.Penghasilan bapaku yang kecil tidak cukup untuk biaya kuliah. Usianya juga sudah lanjut. Aku punya dua adik yang juga butuh biaya sekolah.
Modal ijazah SMK, sulit bagiku cari kerja di Indonesia. Akhirnya aku bersama temanku nekat daftar ke PJTKI di Jakarta. Empat bulan aku proses di sana untuk brangkat ke Hong Kong karena tetanggaku kerja di HK banyak yang sukses aku pun tertarik.
Tiba saatnya aku bikin passport di Jakarta Timur dengan beberapa temanku didampingi staf PT yang mau memberangkatkan aku ke Hong Kong. Selesai dipotret, aku bersama teman-temanku masih harus menunggu proses yang lain.
Tiba-tiba dari pengeras suara ada yang memanggil.”Panggilan kepada saudara Lutfiana Masruroh untuk datang ke kantor!” Aku tak menghiraukan panggilan itu, mungkin bukan aku, siapa tau ada nama yang kebetulan sama dengan namaku, kenapa teman-teman yang lain tidak dipanggil.
Panggilan di pengeras suara itu sampai dua kali. Aku pun tetap duduk bersama teman-temanku. Tiba-tiba, tidak lama kemudian, ada petugas imigrasi mendekatiku dan berkata, “Mbak, namanya Lutfiana Masruroh?” “Ya betul,” jawab saya dengan senyum. “Dipanggil dua kali kok ‘ga datang?” “Kirain ada Lutfi yang lain, Bu,” jawabku tetap dengan senyum.
Aku pun berjalan membuntuti wanita setengah baya itu, menuju ruangn. Dalam ruangan itu ada beberapa pria yang belum aku kenal. Satu per satu mereka menanyai aku. Tanya namaku dan nama orang tuaku, alamat, dll. Aku pun menjawabnya. Aku juga bertanya, apa ada yang kurang dalam pembuatan passport? Mereka bilang, “’Gak ada”. “Terus kenapa saya dipanggil ke ruangan ini?” tanyaku penasaran.
“Benar kamu anak Indonesia asli?” “Bener Pak, saya orang Indonesia asli, saya bisa nyanyi Indonesia Raya, Garuda Pancasila, isi UUD ‘45 saya juga hafal, sekalian pasalnya pak, pasal 34, anak yatim dan fakir miskin dipelihara oleh negara betul ‘ga pak?” jelasku.
“Tapi wajahmu bukan seperti orang Indonesia, seperti orang Arab, ibumu orang mana, bapakmu orang mana? Ibu kamu pernah kerja ke Arab Saudi ya?”
Satu per satu kujawab pertanyaan dari bapak-bapak yang menginterogasiku seperti polisi. Dengan nada kesal aku menjawab, “Maaf, perlu bapak tau ya, Ibuku ga pernah kerja ke Saudi dan beliau setia dengan Bapakku, beliau tidak pernah selingkuh, ‘kan bukan salah saya punya wajah keren, ini udah dari sononya,” tegasku. He he he…..
“Oke oke dech…” Sambil melihat dan membaca data-data yang terlampir, aku pun dipersilakan keluar ruangan. Aku pun keluar. Dalam hati aku berkata, “Jujur aja, kalau naksir sama Lutfi pak, pakai banyak pertanyaan!” Grubyak….. terbangun dari khayal!
Dua minggu setelah pembuatan paspor, aku pun terbang ke Hong Kong dengan Chatay Pacific, tepat tanggal 8 Agustus 2003, bersama beberapa temanku. Waktu itu, aku benar-benar buta hukum dan peraturan ketenagakerjaan di Hong Kong.
Aku digaji HKD 2500. Kupikir udah banyak dibandingkan kerja di Indonesia, karena aku merasa bahasa Kantonisku belum fasih dan harus komat-kamit alias ‘ga berani ngomong, takut salah, dan belum punya pengalaman kerja, menjadikan aku terima gaji segitu. Selama 6 bulan aku tidak dikasih libur dan tidak digaji alias dalam masa potongan gaji. Aku juga tidak punya teman sehingga kurang informasi.
Setelah aku mendapatkan libur, aku pun juga tidak banyak teman, karena aku hanya dapat jatah libur dua kali dalam sebulan. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, hampir finish dua thun. Tiba-tiba Allah memberi musibah kepadaku. Kedua kakiku sakit, penyebab awalnya kakiku digigit nyamuk, karena setiap pagi sama nenek yang aku jaga selalu diajak jalan-jalan pagi di lapangan pacuan kuda di Happy Valey. Aku beritahukan ke neneku kalau kakiku gatal, terus neneku memberi aku obat gosok/balsem.
Tanpa aku baca terlebih dahulu, langsung kuoleskan balsem itu ke kedua kakiku. Gatal yang kurasakan bukanya semakin berkurang, tapi semakin gatal dan terasa panas menyengat. Karena sudah tidak kuat dengan rasa panas, aku cuci dengan air bersih dan kulihat balsem yang telah membuat aku kepanasan. Astagfirullah, ternyata balsem itu sudah kadaluarsa…..!
Keesokan harinya, tepatnya di hari Sabtu, aku pergi ke pasar Wanchai dengan naik kendaraan No. 11 alias jalan kaki. Pulangnya aku kehujanan. Sampai di rumah, aku langsung cuci kaki, rasa gatal di kakiku masih terasa dan benjolanya semakin membesar seperti biji jagung.
Aku pun membiarkanya. Digigit nyamuk bagiku hal biasa. Tapi kali ini aneh, malem badanku terasa meriang, ah mungkin aku kecapean naik turun tangga karena rumah majikanku di lantai 5 ga ada liftnya.
Hari Minggu aku bangun, langsung menuju kamar mandi, badanku terasa lemas, berkeringat dingin, padahal udara tidak panas. Aku hampir pingsan di kamar mandi. Kakiku bukan hanya gatal, tapi benjolan juga makin membesar, sebesar telur puyuh dan ada air di dalamnya.
Aku tidak cerita ke nenekku. Hari itu aku tetap berangkat libur dan menemui saudaraku, terus di ajak ke Ejenku. Ejen menyarankan aku ke Rumah Sakit. Akhirnya aku diantar saudaraku ke Retunjee Hospital di Wanchai dan dikasih obat. Selama tiga hari tidak ada perubahan. Akhirnya majikanku melarikan aku di pindah ke Blood Caritas di daerah Samsuipo.
Aku langsung ditangani dokter dan dokter menanyai aku apakah aku kena air panas? Aku gelengkan kepala, karena aku tidak terkena air panas, luka di kakiku seperti luka terkena air panas, dokter menaruh curiga dan bertanya lagi, bagaimana majikanmu baik tidak, jangn takut kalau kamu di siram air panas cerita saja, aku tetap menggelengkan kepala, dan aku pun langsung bercerita apa adanya. Dokter pun merasa keheranan, kok secepat itu kejadianya dan langsung kayak begini.
Seminggu aku dirawat di Rumah Sakit Sam Sui Po. Alhamdulilah, kakiku sehat dan sembuh. Aku tak henti-hentinya bersyukur kepada Allah Swt. Mungkin selama ini aku kurang bersyukur dengan nikmat yang kuterima sehingga Allah memberiku sakit.
Aku kembali kerja seperti biasa, tetapi ada perubahan terhadap sikap nenekku yang makin hari makin cerewet. Ini salah itu salah. Aku hanya beristighfar, mengingat aku harus finish kontrak dan ingat wajah keriput kedua orang tuaku dan inget dua adikku yang masih butuh biaya sekolah. Aku bertahan di situ.
Sir majikan laki yang mendatangani kontrak kerjaku menanyaiku, masih maukah kau kerja jaga mamaku? Aku pun bilang mau. Kamu digaji HKD 2600 ya? Aku pun bilang iya. Sir-ku orangnya baik, perhatian sama aku, dia tidak pernah nyuruh kerja, yang penting jaga mamanya. Dasar aku belum tau dan buta hukum di Hong Kong, dan aku belum mengenal organisasi, digaji 2600 juga masih mau mengingat Sir-ku baik.
Suatu ketika, aku libur, bertemu sama temanku. Dia juga di gaji HKD 2500 dan dia menuntut majikanya yang dibantu oleh Bapak Antony Wong, karena itu adalah gaji Underpay yang seharusnya aku terima gaji sebesar HKD 3470. Aku pun jadi paham. Lalu temanku mengenalkan aku dengan Pak Antony Wong dan mengajakku ke rumahnya, ternyata banyak teman BMI di sana dengan kasus yang sama.
Dengan saran dan banyak penjelasan, aku kembali ke tempat majikanku berusaha untuk cari bukti kuat karena paspor dan kontrak kerja dipegang majikan.
Setelah aku mendapat bukti-bukti yang cukup kuat, berupa rekaman pembicaraanku tentang gajiku yang cuma HKD 2500. Waktu aku libur, aku tidak pulang ke rumah majikanku, tapi aku memilih pulang ke rumah Pak Antoni Wong di daerah Causeway Bay. Di sana banyak temen BMI yang bermasalah juga. Waktu itu seminggu sebelum aku finish kontrak yang kedua.
Proses pengaduanku ke Labour Departement mulai berjalan. Majikan tidak terima dengan surat yang aku kirim. Saat meeting di Labour di depan officer, majikan memaki-maki aku, dan membantah kalau dia menggaji aku underpay.
Aku pun mengeluarkan rekaman suara percakapan saat gajian. Dia pun tetap membantah yang hanya akan memberiku satu bulan gaji dan tiket pulang ke Indonesia. Aku menolaknya karena tuntutanku hampir 50 ribu HKD. Meeting tidak ada jalan keluar yang harus berlanjut ke meja hijau di Tribunal alias harus sidang.
Hidup di luar butuh biaya butuh makan, untungnya bulan itu bulan puasa jadi bisa irit pengeluaran. Teman-teman di asrama ASBURI (Asosiasi Buruh Indonesia) yang dipegang Pak Antony Wong, banyak ragam dan jenis, tapi masih jenis perempuan semua, tapi beda rupa, dari model artis kondangan sampai model artis India yang kliatan udelnya… hahaha… Kok ‘ga masuk angin ya pakai gituan. Biarin ach, yang penting bukan aku.
Seperti biasa, usai sholat Subuh, tidur sebentar karena di sepertiga malam sampai Subuh aku tidak tidur. Bangun tidur, pasti ngantre di kamar mandi. Aku paling tak suka yang namanya antre. Kuambil tas yang berisi baju, handuk, dan sabun. Aku pergi ke kamar mandi umum Victoria Park. Biasanya orang-orang yang habis olahraga mandinya di sana.
Tiap mandi, aku pergi ke tempat itu, tempat yang bersih, ada air hangatnya, gratis lagi. Model seperti aku sekarang paling suka yang namanya gratis, maklumlah, wong namanya tidak kerja tapi pengeluaran terus! Intinya jurus irit gitu lo……! Tidak seperti di Indonesia, buang air kecil saja harus bayar, di Hong Kong tidak perlu ngeluarin uang sepeser pun.
Hari itu aku pergi ke Masjid Ammar Wanchai. Teman-temanku di asrama selalu bilang “Uhui… keluar nyari bapaknya….. !” Entah apa maksudnya, aku cuek aja, tapi tetap tersenyum.
Waktu kuhabiskan di masjid bersama teman-teman yang libur hari biasa, yaitu Halaqoh, organisasi BMI HK, sampai Maghrib aku di sana. Oh iya, di Masjid Ammar Wanchai kalau bulan puasa menyediakan takjil nasi, buah, minuman manis, dan tak ketinggalan kurma yang disediakan di kantin masjid secara gratis selama bulan puasa.
Aku pun senang, he he he… dapat gratisan lagi! Alhamdulilah, rezeki, bisa hemat pengeluaran. Selain di situ, di KJRI juga menyediakan takjil. Aku pun sering membawa makanan pulang untuk sahur.
Usai sholat tarawih, aku pulang ke asrama dan teman-temanku selalu bilang “Anake Pak Muhaeimin (excutif dakwah IUHK) pulang….” Dengan nada yang serentak dari teman-teman yang lain di ruangan itu. Aku menyapa mereka dengan salam “Assalamualaikum”. Mereka pun menjawab salamku.
Tetapi kalo aku dapat jatah piket, aku pun di rumah asrama tidak pergi ke masjid, hanya malam saja pergi sholat Tarawih di Mushola Al-Falah KJRI. Sebelum aku berangkat ke masjid, kuajak teman-teman, tapi tak satu orang pun yang mau ikut ajakanku. Mereka lebih memilih karaokean atau nonton TV atau nonon.. tidak tau lah, apa….
Makin hari uangku makin menipis, dan aku harus extent visa, membayar 130. Ketika ada orang ygmenawariku kerja part time, langsung aja kuterima walau berisiko, kalau ketahuan polisi bisa masuk penjara!
Waktu itu aku part time di daerah Pok Fu Lam, menjaga nenek satu orang, tugasku menjaga dan memasak untuknya sehari 3x selama seminggu. Alhamdulilah, ada pemasukan, walaupun selalu was-was dengan polisi. Setiap kali aku keluar rumah, tak lupa ku selau berdoa “Bismillahi Tawakkaltu ‘Alallah Laa Haula Walaa Quwwata Illabillahil ‘Alyyil ‘Azhiim”.
Alhamdulilah, kerjaku aman. Mungkin teman-teman sudah bosan yang selalu menyapaku “Anaknya Pak Muhaemin pulang”. Malam ini tidak ada temanku yang bilang seperti itu. Aku pun tetap menyapa mereka dengan ramah.
“Teman-teman, siapa besok malam yang mau ikut Llutfi sholat tarawih, pasti urusan cepet selesai, dan tuntutan majikan dibayar mahal dari tawaran semula,” tanyaku. Ika, BMI yang juga kasus underpay, langsung menjawabnya. “Yang bener mbak, jangan bohong ya, kalo begitu aku ikut trawih.” Kujawab, “Insya Allah”.
Malam itu, aku berangkat Tarawih dengan Ika yang baru pertama kali masuk Mushola Al-Falah KJRI. Ia agak canggung. “Tenang aja Ik, biasa aja, mereka semua baik kok!”.
Sebelum sholat tarawih, Ust. Muhaemin memberi KULTUM (kuliah Tujuh Menit) dan ada tausiyah setelah sholat tarawih oleh Ustadz yang diundang KJRI dan DDHK.
Keesokan harinya, aku dan Ika harus ke imigrasi untuk extent visa. Tiba-tiba telefon genggam Ika berdering. “Mbak, nomor asing diangkat ‘gak?” kata Ika. Aku jawab, “Angkat aja, siapa tahu telefon penting”. Ika pun mengangkatnya, “Hai ya.. haiya (sambil manggut-manggut), emkoi sai,” terus matikan HP. Lalu Ika memelukku.
“Ada apa Ik?” tanyaku. “Alhamdulilah Mbak, kemarin waktu meeting ditawar HKD 15.000, tadi officer bilang, majikan mau nambah lagi HKD 5000, jadi total HKD 20.000″.
Ika dengan senyum sumringah, bahagia. “Nah lo… benar ‘kan, Ikut sholat tarawih sekali aja langsung ditawar HKD 5000, coba tiap hari tarawih, pasti tuntutanmu HKD 30.000 bisa keluar semua,” kataku.
Tibalah waktunya aku harus bertemu dengan majikanku di meja sidang. Aku hanya ditemani seorang penerjemah. Majikanku bersama laki-laki bertubuh kekar. Sejak aku melangkahkan kaki ke Tribunal di Prince Adward, aku tak henti-hentinya membaca Ayat Kursi sampai masuk di ruang sidang.
Sang jaksa memberi aba-aba ketika hakim masuk ruangan. Kami semua yang hadir di ruang sidang berdiri memberi hormat. Tak lama kemudian, nama majikanku dipanggil untuk duduk di tempat duduk yang sudah disiapkan. Kemudian giliran namaku yang dipanggil, aku pun maju duduk di samping penerjemah yang menemaniku sidang.
Sidang dimulai dari jam 10.00. Hakim membacakan tuntutanku, dan majikanku membantah, aku pun membela diri dengan membantah yang diterjemahkan oleh penerjemah yang mendampingiku.
Tuntutanku uang sebesar HKD 50.000. Majikan hanya mau membayar HKD 20.000. Aku pun sudah menurunkan tuntutanku menjadi 40.000, tapi majikanku menawar lagi HKD 25.000. Aku tidak menyetujuinya. Aku minta di tambah lagi 5000. Majikanku tidak mau dan bilang tidak punya uang.
Akhirnya sang Hakim berkata: “Kok kalian berdua mendebatkan uang 5000, bagaimana kalau uang 5000 dibagi dua, jadinya majikan menambah uang ke kamu 2500, setuju tidak, daripada sidang ditunda lagi, butuh waktu lama?” tegas sang hakim.
Hakim memberi waktu 15 menit untuk berunding di luar ruang sidang. Aku minta pendapat dan pertimbangan Pak Antoni Wong yang juga menemaniku sidang. “Ya udahlah, terima saja 27.500 daripada sidang ditunda lagi nunggu waktu lama lagi hidup di luar tanpa kerja juga butuh uang,” kata Pak Antony Wong. Aku setuju.
Memasuki ruangan sidang, kembali hakim menanyai kami berdua, aku dan majikanku. “Bagaimana dengan keputusan kalian berdua, sidang dilanjutkan atau didamaikan dengan membayar tuntutan yang dia ajukan?” sang hakim bertanya kepada majikanku.
Majikanku menyetujui dan mau membayar uang tuntutanku sebesar HKD 27.500 tunai. Hakim meminta kepad majikanku untuk mengeluarkan uang cash itu. Hakim pun menjelaskan, jika sudah dibayar tidak boleh mengadukan majikan lagi dan sudah damai. Hakim ketuk palu.
Sang officer membuatkan surat pernyataan penerimaan uang dan menyatakan damai, sekaligus menyerahkan uang sebesar HKD 27.500 kepadaku. Alhamdulilah, Ya Rabb! Aku tak henti-hentinya bersyukur kepada Allah. Empat bulan sudah, masalahku telah selesai. (Lutfiana Wakhid/ddhongkong.org).*

Menjadi ‘Pengacara’ BMI Underpay, Main Petak Umpet di Bandara


lutfiana wakhidSunarti, BMI Hong Kong asal Banyuwangi Jawa Timur, tinggal satu bangunan denganku. Dia di lantai 12 sedangkan aku dilantai 30. Dia di gaji underpay HKD 2200, passport dan kontrak kerja dipegang oleh agent, serta tidak diberi libur selama 14 bulan.
Setiap ada kesempatan bertemu di bawah rumah, dia selalu cerita tentang keadaanya. Dia menjaga nenek dan kakek yang keduanya duduk di kursi roda. Tiap hari ia membawa mereka ke taman dan mendorongnya bergantian. Majikan dia “superpelit”, tapi kok ga juga kaya  ya…?
Siang itu, dia mengantar bobo dan kungkungnya (nenek & kakek) ke restoran yam cha (minum teh). Dia hanya bertugas mengantarnya, tapi tidak diajak ikut makan dan hanya diberi uang HKD 3 untuk beli roti sebagai gantinya makan siang. Aku bersama mamaku (panggilan nenek kujaga) menyapa dia ” lei yat ko yan hai lito comea, lei lopan leh?” (kamu sendirian di sini ngapain, majikanmu mana?).
Terus temanku bercerita dan mamaku bilang, “Lei lopan jisin, kem kwai kuhon ke, dongo tei yat jai yam cha lah, emsai hak he wo, lei hai yan ngo tu hai yan, yatyong a”(majikanmu gila, sangat pelit sekali, yuk yam cha bersama kita, tidak usah sungkan-sungkan, kamu manusia, saya juga manusia sama). Temanku menolaknya.
Sejak saat itu mamaku menyuruhku mengajak dia main ke rumah hanya sekadar ngobrol atau makan tanpa sepengetahuan majikanya dia.
Atas informasi dan cerita Sunarti, aku berusaha untuk sedikit memberi saran dan membantunya, untuk minta libur dan menuntut majikanya. Kupinjami dia MP3 untuk merekam percakapan dengan bobonya masalah gaji 2200 dan kenapa tidak sesuai dengan tanda tangan gaji dan tidak dikasih libur. Alhamdulilah, dia berhasil merekan percakapan itu.
Dengan berbagai alasan, akhirnya Sunarti diberi libur hari Jumat. “Mbak Narti, kamu jalan-jalan dulu di Tai Po, nanti jam 1 setelah aku ngasih makan mamaku, setelah sholat Dhuhur, kamu kuantar ke Christian Action di Jordan,” kataku. ” Iya Mbak, terima kasih,” jawabnya.
Jam 1 lebih aku mengajarinya naik Bus No. 271 jurusan Tsim Sha Tsui yang melewati Mong Kok, Yau Matei, dan Jordan dari Terminal Taipo Centre dengan memakai patadong (Octopus Card), karena dia tidak punya patadong, aku yang mengalah harus bayar pakai uang receh.
Sesampainya di Christian Action, kami daftar dan nunggu dipanggil, setelah sampai pada urutan, kami dipanggil untuk ditanyai apa maksud kedatangan kami. Sunarti bercerita apa adanya, lalu Kak Ana, salah satu staf CA, membuatkan surat break kontrak yang harus dikirim ke majikan dan imigrasi Hong Kong.
Setelah urusan selesai, aku pun berpamitan pulang karena aku tidak libur dan mamaku sendirian di rumah. “Nanti kamu terserah mau jalan-jalan ke mana, pulangnya naik bus yag sama, kalau ‘ga ngerti telefon aku,” sambil kuserahkan patadongku ke dia.
Ternyata Allah punya rencana baik yang aku tidak mengerti. Jam 7.30 malam Sunarti sudah pulang sampai di Tai Po. Di taman bawah rumah Narti telepon aku. “Assalamu ’alaikum Mbak, aku dah pulang, sekarang aku mau mengembalikan patadong ke rumahmu”.
Setelah kami ngobrol, sampai jam 8 malam, saat mau menyerahkan patadong kepadaku, dompet yang berisi ID Card Hong Kong dan beberapa uangnya sudah tidak ada dalam tas. Dia pun takut dan kebingungan.
Aku mengantarnya dia ke taman bawah rumah untuk mencari dompetnya, mencarinya ke beberapa lap sap dong (tempat sampah), tidak kami temukan juga. Akhirnya kami sepakat untuk pergi ke Police Station Taipo, melaporkan kehilangan dompet yang berisi ID Card HK. Polisi menanyakan passport, tapi dia tidak ada passport. Kejadian ini pun langsung diberitahukan kepada majikanya.
Syarat untuk membuat ID Card adalah passport dan kontrak kerja. Majikan setengah tak percaya dan mulai curiga dengan Sunarti. Ia sering menggeledah kwaidong (lemari slorokan) tanpa sepengetahuan Sunarti.
Majikan baru yakin begitu Sunarti mendapat surat keterangan dari polisi bahwa kehilangan dompet yang berisi ID Card, akhirnya majikan membantu Sunarti untuk mengambil passport dan kontrak kerja di agent yang kemudian diserahkan ke Sunarti.
Saat kami mau ke imigrasi untuk membuat ID Card, polisi Taipo menghubungiku via telefon bahwa ada orang yang menemukan dompet berisi ID Card HK. Langsung saja kami putar arah menuju kantor Polisi Tai Po.
“Alhamdulilah, ternyata Allah punya rencana baik untukmu,” kataku. “Passport dan kontrak kerjamu bisa kembali gara-gara dompet hilang.” Atas kepercayaan Sunarti kepadaku, kontrak kerja dan passportnya dititipin ke aku, untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya sewaktu-waktu di interminit, dipulangkan langsung ke bandara, masih bisa menuntut majikan.
Proses break kontrak jangka waktunya 1 bulan, terhitung sejak surat dikirim. Seminggu sebelumnya harus keluar dari rumah majikan, pagi setelah jalan-jalan bersama dua manula, sampai rumah Sunarti disuruh cap ye (kemas-kemas) baju milik Sunarti. Saat itu juga ia disuruh tanda tangan paksa oleh anak majikan sambil dimarahi dan langsung diantarkan ke airport Hong Kong.
“Mbak aku diinterminit dan langsung diantar ke bandara, waktu itu aku lagi di bawah, baru pulang dari pasar!” Sunarti menelponku.  “Oke, nggak apa-apa, ikuti aja apa maunya dia, toh kamu gak akan bisa cek in, karena ga ada pasport,” jelasku.
Sesampai di Bandara International Hong Kong Chek Lap Kok, Sunarti diantarkan menuju tempat cek in. Majikan langsungmenyerahkan tiket, tapi begitu ditanyakan passport, ga ada, jelas ‘ga bisa cek in!
“Lei wuciu hai pintoa (paspormu di mana)?” tanya si majikan sambil membentak. “Ngo wuciu hai ngo kace (pasporku di kakakku),” jawab Sunarti.  “Faiti ta pei goi, kiu goi kole (cepat telefon dia, suruh dia kemari),” majikan sambil marah-marah.
“Assalamu ’alaikum, Mbak, aku sudah di bandara, disuruh cek in, tapi ga bisa, sampean suruh ke sini,” Narti menelponku. “Wa’alaikum salam, tunggu aku di bandara, setelah sholat dan makan siang aku menyusulmu, pegang HP-mu, jangan sampai dirampas majikan,” jelasku.
Saat itu juga aku menelepon Kak Ana, staf Christian Action. Aku ceritakan kejadian yang sedang menimpa temanku.
Setelah makan siang aku ceritakan ke mamaku, dan dia ngasih aku waktu keluar. Sebelum keluar rumah, aku menelpon Sunarti. “Mbak, coba cari kesempatan, minta izin majikan ke jiso (toilet), tinggalkan tasmu di situ, nanti aku yang ambil, kamu lari ke arah menuju bus way, cari bis jurusan TST, dan turun di Jordan, nanti telepon Kak Ana ya!”
Majikan tanpa menaruh rasa curiga mengizinkan Sunarti untuk ke jiso. Terlepas dari pengawasan sang majikan, Narti lari menuju terminal bus dengan bantuan teman yang kebetulan hari itu libur dan diantarkannya dia naik bus jurusan Tsim Sha Tsui.
Setelah mendapatkan bus yang dia cari yang membawanya ke Jordan, dia menelponku. “Salam, Mbak, tas ku ta tinggal di bandara, tolong diambil, di deretan kursi tunggu warna biru di gate G”.
Tanpa ganti baju yang kupakai dari pasar dan jilbab instan, sambil membawa je caik (tas belanja beroda dua) yang kupakai untuk belanja ke pasar, aku menuju bandara dan langsung ke tempat yang sudah dijelaskan oleh Sunarti.
Sebelum aku mendekati tas itu, aku melihat majikan Sunarti yang mondar-mandir kebingungan menunggu Sunarti yang tadi pamit ke jiso ga kembali. Dalam pikirku, “Dasar licik, sekarang rasain lo gantian aku yang ngerjain kamu, mana ada cek in ga pakai paspor, emang pulang ke Indonesia mau renang di lautan, mo kau joa!” Dalam hati aku ngedumel sendiri sambil melihat si majikan dari jarak jauh.
Aku pun terus berdoa, “Ya Allah, mudahkanlah urusan temanku, Sunarti, dan mudahkanlah aku untuk membawa lari tas itu, Ya Allah, Aamiin Ya Rabb”.
Beberapa menit kemudian, sang majikan itu meninggalkan tempat itu, aku pun langsung mengambil kesempatan itu untuk “membawa lari” tas Sunarti yang kutaruh di je caik. Dalam pikirku. “Aku cerdas juga ya, bawa je caik, kalau ga bawa je caik bagaimana aku membawa tas seberat ini?”
Belum beranjak jauh dari situ, aku bertemu dengan majikannya dia. Rupanya dia mengenaliku dan berusaha mengejarku.  Aku pun berusaha mencari tempat bersembunyi dari kejaran dia dan terus berdoa. “Ya Allah, tunjukkan jalan-Mu yang aman jauh dari kejaran dia”. Aku bersembunyi di balik kerumunan orang dan kebetulan di situ ada telepon umum sambil mengawasi majikan yang matanya “jelalatan” mencariku.
Sekira suasana aman, aku langsung berlari menuju terminal mencari bus jurusan TST. Alhamdulilah, di terminal aku ga ketemu dia dan bus pun datang mau berangkat, tak henti-hentinya aku mengucapkan hamdalah, karena Allah banyak memberi kemudahan padaku dan juga temanku.
Sambil duduk di bus, aku rapikan jilbabku yang mencong saat kupakai berlarian. Aku tersenyum sendiri mengingat kejadian itu. Kejar-kejaran sama majikan orang! Baru kali ini dech main kejar-kejaran di Hong Kong. Hmmmm… jadi teringat masa kecil, waktu main petak umpet!
Sunarti terlebih dulu sampai di CA. Selang 1 jam aku pun sampai di CA dengan tubuh berkeringat dan wajah kemerah-merahan. Maklum, lagi musim panas dan abis lari-lari.
Sunarti langsung memelukku danmenangis. “Ngapain nangis, udah sampai sini dengan selamat kok nangis!” kataku.  ”Aku masih takut, Mbak,” kata dia sambil mengusap air matanya. “Sudah daftar absen belum?” tanyaku. “Sudah mbak, nunggu dipanggil Kak Ana,” sambil sesenggukan, wajah pucat pasi, karena dari pagi belum sarapan.
Kak Ana memanggil Sunarti. Aku pun ikut masuk menemani Sunarti menghadap Kak Ana. Aku menceritakan kejadian di bandara dengan majikanya Narti dan Kak Ana tertawa terbahak-bahak. “Goblok banget itu majikan, pinteran Lutfi!” kata Kak Ana sambil menepuk pundakku.
Untuk masalah tempat tinggal Sunarti, aku menyarankannya tinggal di Shelter Iqro Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK), selama proses labour.
Saat itu juga, Kak Ana membuatkan surat Complaint Letter yang dikirim ke majikan dan labour Dept. Hong Kong.  Tiga minggu kemudian, labour mengirim surat ke Narti dan majikan untuk meeting di labour Shatin.
Aku menemani Sunarti meeting di labour Shatin. Si Bobo datang bersama anak perempuanya. Kami berdua dipanggil ke ruangan oleh officerMeeting pun dimulai.
Sang officer perempuan memulai pembicaraan, membacakan tuntutan yang diajukan oleh Sunarti,  dan majikan (anak perempuan bobo) membantah dan tidak mengakui perbuatanya bahwa dia telah menggajiunderpay kepada sang pembantu.
Karena Sunarti tidak bisa berbahasa Kantonis dengan lancar, aku yang mencoba membela Sunarti dengan saling membantah apa yang dikatakan wanita Cina daratan itu.
“Lei pingkoa , lei mo cikak dongo kong ye (kamu siapa, kamu ga punya hak ngomong dengan aku),” suara majikan yang seperti radio butut itu memecahkan suasana ruangan yang tadinya tenang sambil berdiri menggebrak meja officer.  Aku pun sambil berdiri menimpalinya: “Ngo hai goi bangyau, ngo pong goi, lei hai pingko, lei tu mo cikak dongo kong taiseng” (aku adalah teman dia, aku aku menolongnya,  kamu siapa, kamu ga punya hak ngomong keras dengan aku). Aku pun sambil melotot dan suara yang keras. Tidak melotot pun mataku udah lebar dari sononya, hehehe….!
Keributan kami begitu keras dan sampai terdengar oleh orang-orang di ruang sebelah. Beberapa dari mereka melihat perserutuan di ruangan kami. Hampir 1 jam perserutuan belum juga selesai dan belum menemukan jalan damai.
Hasil rekaman di MP3 kukeluarkan dengan suara yang jelas bahwa si Bobo menggaji Sunarti HKD2200, sudah menjadi bukti yang cukup kuat untuk maju sidang. Majikan Sunarti langsung diam seribu bahasa. Aku yakin, majikan ga akan berani sidang karena si Bobo sudah tua.
Karena meeting 1 jam belum menemukan jawaban damai, akhirnya officer mengambil keputusan untuk dilanjutkan ke tribunal, meja hijau alias sidang. Aku pun mengangguk dan bilang hoak (ok) yang artinya setuju.
Si majikan minta tambah waktu lagi beberapa menit untuk negoisasi denganku, tawar menawar dihadapan officer, tentang tuntuan HKD 32.000. Dia menawar HKD 20.000. Aku ga mau, lalu menaikan lagi 5.000, aku tetap juga ga mau, memilih untuk sidang, akhirnya si majikan mau bayar HKD 30.000. Sebelum mengambil keputusan mau, aku telefon Kak Ana CA untuk meinta pendapatnya dan ia bilang OK. Aku dan Sunarti mau menerima HKD 30.000 itu.
Saat itu juga di depan officer majikanya Sunarti menyerahkan uang sebesar HKD 30.000 tunai. Kemudian sang officer membuatkan kami surat pernyataan serah terima dan dinyatakan damai tidak boleh menuntut majikan lagi karena sudah di bayar.
Alhamdulillah, tak henti-hentinya aku bersyukur, tugasku sudah selesai. Sunarti yang tinggal di Shelter Iqro DDHK telah pulang ke Indonesia dan tidak kembali ke Hong Kong lagi. (Lutfiana Wakhid/ddhongkong.org).*

Tersesat Jalan: Perjuangan sebagai Reporter DDHK News

Aku (jilbab hitam) bersama Tati dan Anita.*
Hari Minggu adalah hari libur hampir semua pekerja di Hong Kong, termasuk sebagian besar BMI. Aku pun libur hari Minggu. Aku bekerja di Tai Po, daerah New Territories (NT), kota pinggiran yang jauh dari Hong Kong Island yang sudah mendekati China. Biarpun kota pinggiran atau  desa, tidak seperti kota pinggiran di Indonesia yang cenderung pelosok, di sini 24 jam ramai, banyak plaza dan transportasi mudah.
Sabtu Malam, 4 Februari 2012, aku pasti mempersiapkan tas yang akan kubawa untuk berlibur, mengetes alat rekam (recorder) dan kamera, tak ketinggalan alat tulis. Sebelumnya aku telefon Genaral Manager Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK), Ustadz Ahmad Fauzi Qosim, bersama temanku sesama relawan reporter DDHK News, Tati Tia Surati dan Rima Khumaira, untuk briefing sebentar. Setelah telefon kututup, aku mempersiapkan tas dan kucari Patadong (Octopus Card), sebuah kartu cerdik untuk pembayaran.
Tapi sayang, kartu yang kucari-cari tidak juga kutemukan. Kuperiksa tas dan laci mejaku, tidak kutemukan juga. Keesokan harinya, usai sholat Subuh, kucoba lagi mencarinya. Lagi-lagi tidak ketemu. Akhirnya kusiapkan uang pas HKD 10 untuk ongkos, karena kalau naik bus uang lebih tidak ada kembalinya.
Dari Tai Po menuju ke Causeway Bay bisa di tempuh dua jalur, naik Bus 307 jurusan Central atau naik KCR (Kowloon Canton Railway), turun di Kowloon Tong harus pindah MTR (Mass Transit Railway) yang membutuhkan waktu sekitar 1 jam lebih untuk sampai di Causeway Bay.
Menunggu bus 307 ongkos HKD 21,20 cent sangatlah lama bagiku. Naik KCR oper MTR jalan kaki, lumayan lama untuk oleh raga kaki.
Aku orang yang tidak suka pekerjaan yang namanya menunggu lama. Maunya cepat. Hari Minggu (5/2) aku berangkat libur jam 8.30 karena jam 10.00 -01.00 aku harus belajar di Migrant Institute DDHK. Siangnya ada janji ketemu dengan Ibu Sendra Utami di KJRI HK.
Akhirnya kuambil jalur pintas, naik Bus 271 jurusan Tsim Sha Tsui, yang harus turun di depan Masjid TST. Aku duduk di kursi bagian atas paling depan karena Bus di HK dua tingkat. Di samping masjid ada pintu kluar MTR Exit A1 naik MTR, di situ oper Admiralti langsung naik jurusan Chai Wan, yang melewati Wanchai, terus turun di Causeway Bay.
Tapi sayang, Bus 271 yang kunaiki tidak seperti biasanya, memotong jalur di darah Yau Ma Tei melewati jalan kecil di persimpangan taman. Dalam hati, pikirku, ada perubahan jalur. Aku pun merasakan aneh dengan jalan yang sepi tidak dilewati jalur bus. Tidak lama kemudian, salah seorang penumpang ribut dengan sang sopir minta dihentikan, tapi sang sopir tidak mau menghentikan busnya.
Akhirnya terjadi keributan kecil yang suaranya tidak jelas karena aku duduk di atas. Beberapa menit kemudian sopir berteriak, “Jumpo lok je hai siong pin tu lok je!” Semua turun dari mobil. Yang di atas juga turun. Semua penumpang turun. Aku pun ikut turun. “Dasar supirnya lagi error!” dalam hatiku, menghardik sang sopir.
Kulihat di sekir situ tidak ada bus lewat dan sepi. Mataku mencari cari tulisan MTR di sekeliling situ. Alhamdulilah, sambil berjalan tanpa arah (karena bagiku itu tempat asing dan aku belum pernah melewatinya), aku temukan tulisan MTR Jordan Stasiun, langsung ku menuju ke arah sana.
Karena Octopus Card-ku hilang, aku harus membeli lagi yang sekali pakai, A Magnetig Single Journey Ticket For Adult, kupencet-pencet di mesin pembelian tiket untuk jurusan Causeway Bay seharga HKD 11.
Setelah tiket kluar dari mesin, aku coba cari Railway jurusan ke Caseway Bay. Ternyata tidak kutemukan juga. Yang ada jurusan Tuen Mun dan Hung Hom.
Anehnya lagi, di situ tidak banyak orang alias sepi, padahal hari Minggu. Aku naik turun eskalator mancari yang jurusan Caseway Bay, tidak juga menemukan. Aku berhenti dan SMS Abiku. “Bi, Lutfi tersesat naik bus, sopirnya error!” Abiku langsung membalas SMS-ku: “Mungkin tadi Lutfi lupa baca doa naik kendaraan!” Kujawab, “Udah baca bismillah, Bi, dan baca solawat di bus, tapi sambil ngantuk.” Abiku SMS lagi, “Hadapi……. Hayati…… Nikmati”.
Rima khumaira, Ust. Fauzi, Aku, dan Tati di Kantor DDHK.*
AKU mulai melangkahkan kaki mencari Caunter Service. Alhamdulilah, kutemukan juga dan aku langsung bertanya, “Emkoi ngo siong man ha hai Dong Lowan tap mea tedit?” (Permisi saya mau tanya ke Caseway Bay naik MTR apa ya?). Dengan ramahnya, laki-laki itu menjelaskan, “Cece lei yatteng cuin je liong ji” (Mbak kamu harus oper dua kali), sambil menunjukan dan memberikanya MTR System Map. Kujawab, “Emkoi say!” (terima kasih), terus aku pergi.
Ternyata posisiku saat itu di Jordan West Station, seharusnya di Jordan East. Aku pun langsung naik MTR, mengambil jurusan Tuen Mun West Rail Line, turun di Nam Cheung, oper jurusan Hong Kong Island, berhenti di stasiun Central. Stasiun ini sangat besar dan luas. Banyak orang karena stasiun ini berakhirnya dari arah Tung Cung, Tsuen Wan, Air Port, dan sheung Wan. Dari Central menuju Causeway Bay melewati dua stasiun, yaitu Admiralti, Wan chai, dan Caseway Bay.
Tepat jam 11.00 aku tiba di Caseway Bay, keluar exit E. Ternyata jalan ditutup karena ada Lari Maraton yang diadakan Standard Chartered Hong Kong, harus menunggu lama untuk bisa menyeberang jalan itu.
Setelah bisa menyeberang jalan, langkahku kupercepat, sedikit lari kecil, menerobos orang-orang di jalan, langsung menuju MI DDHK untuk belajar menjahit yang seharusnya dimulai jam 10 pagi –aku terlambat 1 jam lebih dan berakhir jam 1 siang.
Usai belajar, aku langsung menunaikan sholat Dhuhur, lalu makan siang di PERI (Rumah Perantau Indonesia –kantin halal food, pelaksanaan program ekonomi kemandirian milik DDHK).
Setelah makan siang, Tati Tia Surati menelponku, “Assalamualaikum , Mbak Lutfi, Mbak Umi (koordinator volunteer DDHK, Red) bilang, Ibu Sendra ada di Chai Wan, kalau Mbak Lutfi ke sana, tolong motret kegiatan DDHK ya!” Saya jawab, “Wa’alaikum salam, insya Allah.” Jam sudah menunjukan pukul 2 siang, aku pun langsung meluncur ke Chai Wan.
Sesampai di Chai Wan langsung kukeluarkan kamera, memotret yang dipesan Tati, bersilaturahim dengan Volunteer DDHK yang mengikuti Bazar yag diadakan KJRI HK, juga beberapa organisasi BMI HK.
Setelah memotret aku naik ke Aula Islamic Kasim Tuet Memorial College Chai Wan, karena di situ ada pengajian. Dalam perjalanan, di tangga, aku bertemu Kace Ketua GOLPINDO. Kami pun saling menyapa. Sampai di pintu masuk, disambut panitia, kebetulan panitianya ketua Halaqoh Sabtu, Ibu Retno Uswatun Khasanah. Kami pun mengucapkan salam sambil berpelukan, seperti teletubis hehehe…, karena kita lama tidak bertemu –hari libur kami  berbeda.
Sampai di aula aku menyapa Rima Khumaira yang lagi sibuk shooting acara dari tim DDHK News dan teman-teman lain yang ikut acara di sana. Tiba-tiba HP-ku bergetar, kuraih dari balik bajuku, ternyata Tati Tia Surati yang telefon. “Assalamu’alaikum, Mbak, Bu Sendra sekarang berada di KJRI,” tanpa ngobrol panjang, aku pun meluncur ke KJRI dengan naik MTR.
Sesampai di KJRI, Satpam melarangku masuk ke lantai 10. Padahal, aku sudah bilang kalau sudah bikin janji ketemu Bu Sendra Utami di KJRI. Satpam bilang, tunggu Bu Sendra selesei rapat. Aku pun menunggu sambil duduk manis di Lobi KJRI sambil SMS-an dengan Tati.
Rapat pun selesai. Bun Sendra keluar bersamaan dengan Tati yang kebetulan ikut rapat. Bu Sendra dengan senyum ramah menyapaku, mengajak Kami (aku dan Tati) untuk masuk di ruang kerjanya. Kami bincang-bincang sebentar. Setelah mendapatkan penjelasan dari beliau, kami berdua pun pamit pulang menuju kantor DDHK untuk melaksanakan shalat Ashar.
Usai shalat Ashar, aku dan Tati menuju ke Tenda Putih Victoria Park karen kegiatan Ulil Albab DDHK di sana ada kegiatan rutin sholat Magrib berjamaah yang sebelumnya ada kajian sore yang disampaikan oleh Ustadz Tim SDSB (Satu Da’i Seribu Berkah) DDHK.
Rupanya kedatangan kami terlambat. Laskar Ulil Albab sudah berkumpul dan tausiyah sedang berlangsung. Saat itu tausiyah disampaikan oleh Ust. Masagus Fauzan Yayan, pemilik Rumah Tahfidz Terapung di Palembang. Beliau datang ke Hong Kong atas tugas yang diberikan oleh Ust. Yusuf Mansur (PPA Darul Quran) untuk mengajari teman-teman di Rumah Tahfidz Hong Kong.
Usai tausiyah, kami melaksanakan shalat Magrib berjamah, diimami GM DDHK Ust. Ahmad Fauzi Qosim. Tampak yang ikut shalat dari kaum adam Ust. Masagus Fauzan Yayan, Ustadz Triyono Hari Kuntjoro, Ustadz Ali Makmun, dan TKL Pak Roikan.
Usai shalat Magrib, kami pun bubar, kembali ke Kantor DDHK. Kami semua berjalan kaki menuju kantor DDHK.  Tapi sebelum kembali ke kantor, saya dan Tati berbincang-bincang dengan ustadz yang ramah dan murah senyum yang akrab disapa Ustazd Fauzan.
Saat aku mau beranjak pergi, beliau menyodorkan buku karyanya yg berjudul Kiat Jitu Bersahabat dengan Alquran. “Buku ini buat Mbak Lutfi,” katanya. Kuraih buku itu dengan senang hati, kuucapkan terima kasih banyak. Alhamdulillah…! (Lutfiana Wakhid/ddhongkong.org).*