Thursday, August 23, 2012

Dikira Orang Arab, Buta Hukum, dan Digaji Underpay


lutfiana wakhidOleh Lutfiana Wakhid
Menjadi TKW atau BMI di Hong Kong bukanlan cita-citaku. Tapi itulah yang terjadi padaku. Lulus SMP, aku mendaftarkan diri ke SPK (Sekolah Perawat Kesehatan) Claket Malang. Aku lulus uji kesehatan dan fisik. Dua hari kemudian Ujian Tes Tulis selama empat hari untuk beberapa mata pelajaran.
Alhamdulilah, semua mata pelajaran aku bisa menjawabnya dengan baik dan aku yakin 90% jawabanku benar. Karena persiapanku begitu matang dan aku tidak merasa kesulitan dalam menjawab soal.
Saatnya pengumuman pelulusan ujian tes tulis, kucari cari namaku di papan pengumuman, tapi tidak ada. Kucoba cari di papan sebelah, siapa tahu ada, ternyata tak ada juga. Aku masih belum yakin, kubaca lagi satu per satu. Tidak ada namaku tertulis di situ.
Aku pulang dengan menitikkan air mata, karen aku sangat berminat untuk sekolah di sana. Akhirnya, aku mendaftarkan diri di SMK PGRI Turen. Mau daftar di SMU Negeri sudah tutup.
Lulus SMK ingin melanjutkan kuliah. Lagi-lagi harus terhalang dengan biaya.Penghasilan bapaku yang kecil tidak cukup untuk biaya kuliah. Usianya juga sudah lanjut. Aku punya dua adik yang juga butuh biaya sekolah.
Modal ijazah SMK, sulit bagiku cari kerja di Indonesia. Akhirnya aku bersama temanku nekat daftar ke PJTKI di Jakarta. Empat bulan aku proses di sana untuk brangkat ke Hong Kong karena tetanggaku kerja di HK banyak yang sukses aku pun tertarik.
Tiba saatnya aku bikin passport di Jakarta Timur dengan beberapa temanku didampingi staf PT yang mau memberangkatkan aku ke Hong Kong. Selesai dipotret, aku bersama teman-temanku masih harus menunggu proses yang lain.
Tiba-tiba dari pengeras suara ada yang memanggil.”Panggilan kepada saudara Lutfiana Masruroh untuk datang ke kantor!” Aku tak menghiraukan panggilan itu, mungkin bukan aku, siapa tau ada nama yang kebetulan sama dengan namaku, kenapa teman-teman yang lain tidak dipanggil.
Panggilan di pengeras suara itu sampai dua kali. Aku pun tetap duduk bersama teman-temanku. Tiba-tiba, tidak lama kemudian, ada petugas imigrasi mendekatiku dan berkata, “Mbak, namanya Lutfiana Masruroh?” “Ya betul,” jawab saya dengan senyum. “Dipanggil dua kali kok ‘ga datang?” “Kirain ada Lutfi yang lain, Bu,” jawabku tetap dengan senyum.
Aku pun berjalan membuntuti wanita setengah baya itu, menuju ruangn. Dalam ruangan itu ada beberapa pria yang belum aku kenal. Satu per satu mereka menanyai aku. Tanya namaku dan nama orang tuaku, alamat, dll. Aku pun menjawabnya. Aku juga bertanya, apa ada yang kurang dalam pembuatan passport? Mereka bilang, “’Gak ada”. “Terus kenapa saya dipanggil ke ruangan ini?” tanyaku penasaran.
“Benar kamu anak Indonesia asli?” “Bener Pak, saya orang Indonesia asli, saya bisa nyanyi Indonesia Raya, Garuda Pancasila, isi UUD ‘45 saya juga hafal, sekalian pasalnya pak, pasal 34, anak yatim dan fakir miskin dipelihara oleh negara betul ‘ga pak?” jelasku.
“Tapi wajahmu bukan seperti orang Indonesia, seperti orang Arab, ibumu orang mana, bapakmu orang mana? Ibu kamu pernah kerja ke Arab Saudi ya?”
Satu per satu kujawab pertanyaan dari bapak-bapak yang menginterogasiku seperti polisi. Dengan nada kesal aku menjawab, “Maaf, perlu bapak tau ya, Ibuku ga pernah kerja ke Saudi dan beliau setia dengan Bapakku, beliau tidak pernah selingkuh, ‘kan bukan salah saya punya wajah keren, ini udah dari sononya,” tegasku. He he he…..
“Oke oke dech…” Sambil melihat dan membaca data-data yang terlampir, aku pun dipersilakan keluar ruangan. Aku pun keluar. Dalam hati aku berkata, “Jujur aja, kalau naksir sama Lutfi pak, pakai banyak pertanyaan!” Grubyak….. terbangun dari khayal!
Dua minggu setelah pembuatan paspor, aku pun terbang ke Hong Kong dengan Chatay Pacific, tepat tanggal 8 Agustus 2003, bersama beberapa temanku. Waktu itu, aku benar-benar buta hukum dan peraturan ketenagakerjaan di Hong Kong.
Aku digaji HKD 2500. Kupikir udah banyak dibandingkan kerja di Indonesia, karena aku merasa bahasa Kantonisku belum fasih dan harus komat-kamit alias ‘ga berani ngomong, takut salah, dan belum punya pengalaman kerja, menjadikan aku terima gaji segitu. Selama 6 bulan aku tidak dikasih libur dan tidak digaji alias dalam masa potongan gaji. Aku juga tidak punya teman sehingga kurang informasi.
Setelah aku mendapatkan libur, aku pun juga tidak banyak teman, karena aku hanya dapat jatah libur dua kali dalam sebulan. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, hampir finish dua thun. Tiba-tiba Allah memberi musibah kepadaku. Kedua kakiku sakit, penyebab awalnya kakiku digigit nyamuk, karena setiap pagi sama nenek yang aku jaga selalu diajak jalan-jalan pagi di lapangan pacuan kuda di Happy Valey. Aku beritahukan ke neneku kalau kakiku gatal, terus neneku memberi aku obat gosok/balsem.
Tanpa aku baca terlebih dahulu, langsung kuoleskan balsem itu ke kedua kakiku. Gatal yang kurasakan bukanya semakin berkurang, tapi semakin gatal dan terasa panas menyengat. Karena sudah tidak kuat dengan rasa panas, aku cuci dengan air bersih dan kulihat balsem yang telah membuat aku kepanasan. Astagfirullah, ternyata balsem itu sudah kadaluarsa…..!
Keesokan harinya, tepatnya di hari Sabtu, aku pergi ke pasar Wanchai dengan naik kendaraan No. 11 alias jalan kaki. Pulangnya aku kehujanan. Sampai di rumah, aku langsung cuci kaki, rasa gatal di kakiku masih terasa dan benjolanya semakin membesar seperti biji jagung.
Aku pun membiarkanya. Digigit nyamuk bagiku hal biasa. Tapi kali ini aneh, malem badanku terasa meriang, ah mungkin aku kecapean naik turun tangga karena rumah majikanku di lantai 5 ga ada liftnya.
Hari Minggu aku bangun, langsung menuju kamar mandi, badanku terasa lemas, berkeringat dingin, padahal udara tidak panas. Aku hampir pingsan di kamar mandi. Kakiku bukan hanya gatal, tapi benjolan juga makin membesar, sebesar telur puyuh dan ada air di dalamnya.
Aku tidak cerita ke nenekku. Hari itu aku tetap berangkat libur dan menemui saudaraku, terus di ajak ke Ejenku. Ejen menyarankan aku ke Rumah Sakit. Akhirnya aku diantar saudaraku ke Retunjee Hospital di Wanchai dan dikasih obat. Selama tiga hari tidak ada perubahan. Akhirnya majikanku melarikan aku di pindah ke Blood Caritas di daerah Samsuipo.
Aku langsung ditangani dokter dan dokter menanyai aku apakah aku kena air panas? Aku gelengkan kepala, karena aku tidak terkena air panas, luka di kakiku seperti luka terkena air panas, dokter menaruh curiga dan bertanya lagi, bagaimana majikanmu baik tidak, jangn takut kalau kamu di siram air panas cerita saja, aku tetap menggelengkan kepala, dan aku pun langsung bercerita apa adanya. Dokter pun merasa keheranan, kok secepat itu kejadianya dan langsung kayak begini.
Seminggu aku dirawat di Rumah Sakit Sam Sui Po. Alhamdulilah, kakiku sehat dan sembuh. Aku tak henti-hentinya bersyukur kepada Allah Swt. Mungkin selama ini aku kurang bersyukur dengan nikmat yang kuterima sehingga Allah memberiku sakit.
Aku kembali kerja seperti biasa, tetapi ada perubahan terhadap sikap nenekku yang makin hari makin cerewet. Ini salah itu salah. Aku hanya beristighfar, mengingat aku harus finish kontrak dan ingat wajah keriput kedua orang tuaku dan inget dua adikku yang masih butuh biaya sekolah. Aku bertahan di situ.
Sir majikan laki yang mendatangani kontrak kerjaku menanyaiku, masih maukah kau kerja jaga mamaku? Aku pun bilang mau. Kamu digaji HKD 2600 ya? Aku pun bilang iya. Sir-ku orangnya baik, perhatian sama aku, dia tidak pernah nyuruh kerja, yang penting jaga mamanya. Dasar aku belum tau dan buta hukum di Hong Kong, dan aku belum mengenal organisasi, digaji 2600 juga masih mau mengingat Sir-ku baik.
Suatu ketika, aku libur, bertemu sama temanku. Dia juga di gaji HKD 2500 dan dia menuntut majikanya yang dibantu oleh Bapak Antony Wong, karena itu adalah gaji Underpay yang seharusnya aku terima gaji sebesar HKD 3470. Aku pun jadi paham. Lalu temanku mengenalkan aku dengan Pak Antony Wong dan mengajakku ke rumahnya, ternyata banyak teman BMI di sana dengan kasus yang sama.
Dengan saran dan banyak penjelasan, aku kembali ke tempat majikanku berusaha untuk cari bukti kuat karena paspor dan kontrak kerja dipegang majikan.
Setelah aku mendapat bukti-bukti yang cukup kuat, berupa rekaman pembicaraanku tentang gajiku yang cuma HKD 2500. Waktu aku libur, aku tidak pulang ke rumah majikanku, tapi aku memilih pulang ke rumah Pak Antoni Wong di daerah Causeway Bay. Di sana banyak temen BMI yang bermasalah juga. Waktu itu seminggu sebelum aku finish kontrak yang kedua.
Proses pengaduanku ke Labour Departement mulai berjalan. Majikan tidak terima dengan surat yang aku kirim. Saat meeting di Labour di depan officer, majikan memaki-maki aku, dan membantah kalau dia menggaji aku underpay.
Aku pun mengeluarkan rekaman suara percakapan saat gajian. Dia pun tetap membantah yang hanya akan memberiku satu bulan gaji dan tiket pulang ke Indonesia. Aku menolaknya karena tuntutanku hampir 50 ribu HKD. Meeting tidak ada jalan keluar yang harus berlanjut ke meja hijau di Tribunal alias harus sidang.
Hidup di luar butuh biaya butuh makan, untungnya bulan itu bulan puasa jadi bisa irit pengeluaran. Teman-teman di asrama ASBURI (Asosiasi Buruh Indonesia) yang dipegang Pak Antony Wong, banyak ragam dan jenis, tapi masih jenis perempuan semua, tapi beda rupa, dari model artis kondangan sampai model artis India yang kliatan udelnya… hahaha… Kok ‘ga masuk angin ya pakai gituan. Biarin ach, yang penting bukan aku.
Seperti biasa, usai sholat Subuh, tidur sebentar karena di sepertiga malam sampai Subuh aku tidak tidur. Bangun tidur, pasti ngantre di kamar mandi. Aku paling tak suka yang namanya antre. Kuambil tas yang berisi baju, handuk, dan sabun. Aku pergi ke kamar mandi umum Victoria Park. Biasanya orang-orang yang habis olahraga mandinya di sana.
Tiap mandi, aku pergi ke tempat itu, tempat yang bersih, ada air hangatnya, gratis lagi. Model seperti aku sekarang paling suka yang namanya gratis, maklumlah, wong namanya tidak kerja tapi pengeluaran terus! Intinya jurus irit gitu lo……! Tidak seperti di Indonesia, buang air kecil saja harus bayar, di Hong Kong tidak perlu ngeluarin uang sepeser pun.
Hari itu aku pergi ke Masjid Ammar Wanchai. Teman-temanku di asrama selalu bilang “Uhui… keluar nyari bapaknya….. !” Entah apa maksudnya, aku cuek aja, tapi tetap tersenyum.
Waktu kuhabiskan di masjid bersama teman-teman yang libur hari biasa, yaitu Halaqoh, organisasi BMI HK, sampai Maghrib aku di sana. Oh iya, di Masjid Ammar Wanchai kalau bulan puasa menyediakan takjil nasi, buah, minuman manis, dan tak ketinggalan kurma yang disediakan di kantin masjid secara gratis selama bulan puasa.
Aku pun senang, he he he… dapat gratisan lagi! Alhamdulilah, rezeki, bisa hemat pengeluaran. Selain di situ, di KJRI juga menyediakan takjil. Aku pun sering membawa makanan pulang untuk sahur.
Usai sholat tarawih, aku pulang ke asrama dan teman-temanku selalu bilang “Anake Pak Muhaeimin (excutif dakwah IUHK) pulang….” Dengan nada yang serentak dari teman-teman yang lain di ruangan itu. Aku menyapa mereka dengan salam “Assalamualaikum”. Mereka pun menjawab salamku.
Tetapi kalo aku dapat jatah piket, aku pun di rumah asrama tidak pergi ke masjid, hanya malam saja pergi sholat Tarawih di Mushola Al-Falah KJRI. Sebelum aku berangkat ke masjid, kuajak teman-teman, tapi tak satu orang pun yang mau ikut ajakanku. Mereka lebih memilih karaokean atau nonton TV atau nonon.. tidak tau lah, apa….
Makin hari uangku makin menipis, dan aku harus extent visa, membayar 130. Ketika ada orang ygmenawariku kerja part time, langsung aja kuterima walau berisiko, kalau ketahuan polisi bisa masuk penjara!
Waktu itu aku part time di daerah Pok Fu Lam, menjaga nenek satu orang, tugasku menjaga dan memasak untuknya sehari 3x selama seminggu. Alhamdulilah, ada pemasukan, walaupun selalu was-was dengan polisi. Setiap kali aku keluar rumah, tak lupa ku selau berdoa “Bismillahi Tawakkaltu ‘Alallah Laa Haula Walaa Quwwata Illabillahil ‘Alyyil ‘Azhiim”.
Alhamdulilah, kerjaku aman. Mungkin teman-teman sudah bosan yang selalu menyapaku “Anaknya Pak Muhaemin pulang”. Malam ini tidak ada temanku yang bilang seperti itu. Aku pun tetap menyapa mereka dengan ramah.
“Teman-teman, siapa besok malam yang mau ikut Llutfi sholat tarawih, pasti urusan cepet selesai, dan tuntutan majikan dibayar mahal dari tawaran semula,” tanyaku. Ika, BMI yang juga kasus underpay, langsung menjawabnya. “Yang bener mbak, jangan bohong ya, kalo begitu aku ikut trawih.” Kujawab, “Insya Allah”.
Malam itu, aku berangkat Tarawih dengan Ika yang baru pertama kali masuk Mushola Al-Falah KJRI. Ia agak canggung. “Tenang aja Ik, biasa aja, mereka semua baik kok!”.
Sebelum sholat tarawih, Ust. Muhaemin memberi KULTUM (kuliah Tujuh Menit) dan ada tausiyah setelah sholat tarawih oleh Ustadz yang diundang KJRI dan DDHK.
Keesokan harinya, aku dan Ika harus ke imigrasi untuk extent visa. Tiba-tiba telefon genggam Ika berdering. “Mbak, nomor asing diangkat ‘gak?” kata Ika. Aku jawab, “Angkat aja, siapa tahu telefon penting”. Ika pun mengangkatnya, “Hai ya.. haiya (sambil manggut-manggut), emkoi sai,” terus matikan HP. Lalu Ika memelukku.
“Ada apa Ik?” tanyaku. “Alhamdulilah Mbak, kemarin waktu meeting ditawar HKD 15.000, tadi officer bilang, majikan mau nambah lagi HKD 5000, jadi total HKD 20.000″.
Ika dengan senyum sumringah, bahagia. “Nah lo… benar ‘kan, Ikut sholat tarawih sekali aja langsung ditawar HKD 5000, coba tiap hari tarawih, pasti tuntutanmu HKD 30.000 bisa keluar semua,” kataku.
Tibalah waktunya aku harus bertemu dengan majikanku di meja sidang. Aku hanya ditemani seorang penerjemah. Majikanku bersama laki-laki bertubuh kekar. Sejak aku melangkahkan kaki ke Tribunal di Prince Adward, aku tak henti-hentinya membaca Ayat Kursi sampai masuk di ruang sidang.
Sang jaksa memberi aba-aba ketika hakim masuk ruangan. Kami semua yang hadir di ruang sidang berdiri memberi hormat. Tak lama kemudian, nama majikanku dipanggil untuk duduk di tempat duduk yang sudah disiapkan. Kemudian giliran namaku yang dipanggil, aku pun maju duduk di samping penerjemah yang menemaniku sidang.
Sidang dimulai dari jam 10.00. Hakim membacakan tuntutanku, dan majikanku membantah, aku pun membela diri dengan membantah yang diterjemahkan oleh penerjemah yang mendampingiku.
Tuntutanku uang sebesar HKD 50.000. Majikan hanya mau membayar HKD 20.000. Aku pun sudah menurunkan tuntutanku menjadi 40.000, tapi majikanku menawar lagi HKD 25.000. Aku tidak menyetujuinya. Aku minta di tambah lagi 5000. Majikanku tidak mau dan bilang tidak punya uang.
Akhirnya sang Hakim berkata: “Kok kalian berdua mendebatkan uang 5000, bagaimana kalau uang 5000 dibagi dua, jadinya majikan menambah uang ke kamu 2500, setuju tidak, daripada sidang ditunda lagi, butuh waktu lama?” tegas sang hakim.
Hakim memberi waktu 15 menit untuk berunding di luar ruang sidang. Aku minta pendapat dan pertimbangan Pak Antoni Wong yang juga menemaniku sidang. “Ya udahlah, terima saja 27.500 daripada sidang ditunda lagi nunggu waktu lama lagi hidup di luar tanpa kerja juga butuh uang,” kata Pak Antony Wong. Aku setuju.
Memasuki ruangan sidang, kembali hakim menanyai kami berdua, aku dan majikanku. “Bagaimana dengan keputusan kalian berdua, sidang dilanjutkan atau didamaikan dengan membayar tuntutan yang dia ajukan?” sang hakim bertanya kepada majikanku.
Majikanku menyetujui dan mau membayar uang tuntutanku sebesar HKD 27.500 tunai. Hakim meminta kepad majikanku untuk mengeluarkan uang cash itu. Hakim pun menjelaskan, jika sudah dibayar tidak boleh mengadukan majikan lagi dan sudah damai. Hakim ketuk palu.
Sang officer membuatkan surat pernyataan penerimaan uang dan menyatakan damai, sekaligus menyerahkan uang sebesar HKD 27.500 kepadaku. Alhamdulilah, Ya Rabb! Aku tak henti-hentinya bersyukur kepada Allah. Empat bulan sudah, masalahku telah selesai. (Lutfiana Wakhid/ddhongkong.org).*

No comments:

Post a Comment