Thursday, August 23, 2012

Tersesat Jalan: Perjuangan sebagai Reporter DDHK News

Aku (jilbab hitam) bersama Tati dan Anita.*
Hari Minggu adalah hari libur hampir semua pekerja di Hong Kong, termasuk sebagian besar BMI. Aku pun libur hari Minggu. Aku bekerja di Tai Po, daerah New Territories (NT), kota pinggiran yang jauh dari Hong Kong Island yang sudah mendekati China. Biarpun kota pinggiran atau  desa, tidak seperti kota pinggiran di Indonesia yang cenderung pelosok, di sini 24 jam ramai, banyak plaza dan transportasi mudah.
Sabtu Malam, 4 Februari 2012, aku pasti mempersiapkan tas yang akan kubawa untuk berlibur, mengetes alat rekam (recorder) dan kamera, tak ketinggalan alat tulis. Sebelumnya aku telefon Genaral Manager Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK), Ustadz Ahmad Fauzi Qosim, bersama temanku sesama relawan reporter DDHK News, Tati Tia Surati dan Rima Khumaira, untuk briefing sebentar. Setelah telefon kututup, aku mempersiapkan tas dan kucari Patadong (Octopus Card), sebuah kartu cerdik untuk pembayaran.
Tapi sayang, kartu yang kucari-cari tidak juga kutemukan. Kuperiksa tas dan laci mejaku, tidak kutemukan juga. Keesokan harinya, usai sholat Subuh, kucoba lagi mencarinya. Lagi-lagi tidak ketemu. Akhirnya kusiapkan uang pas HKD 10 untuk ongkos, karena kalau naik bus uang lebih tidak ada kembalinya.
Dari Tai Po menuju ke Causeway Bay bisa di tempuh dua jalur, naik Bus 307 jurusan Central atau naik KCR (Kowloon Canton Railway), turun di Kowloon Tong harus pindah MTR (Mass Transit Railway) yang membutuhkan waktu sekitar 1 jam lebih untuk sampai di Causeway Bay.
Menunggu bus 307 ongkos HKD 21,20 cent sangatlah lama bagiku. Naik KCR oper MTR jalan kaki, lumayan lama untuk oleh raga kaki.
Aku orang yang tidak suka pekerjaan yang namanya menunggu lama. Maunya cepat. Hari Minggu (5/2) aku berangkat libur jam 8.30 karena jam 10.00 -01.00 aku harus belajar di Migrant Institute DDHK. Siangnya ada janji ketemu dengan Ibu Sendra Utami di KJRI HK.
Akhirnya kuambil jalur pintas, naik Bus 271 jurusan Tsim Sha Tsui, yang harus turun di depan Masjid TST. Aku duduk di kursi bagian atas paling depan karena Bus di HK dua tingkat. Di samping masjid ada pintu kluar MTR Exit A1 naik MTR, di situ oper Admiralti langsung naik jurusan Chai Wan, yang melewati Wanchai, terus turun di Causeway Bay.
Tapi sayang, Bus 271 yang kunaiki tidak seperti biasanya, memotong jalur di darah Yau Ma Tei melewati jalan kecil di persimpangan taman. Dalam hati, pikirku, ada perubahan jalur. Aku pun merasakan aneh dengan jalan yang sepi tidak dilewati jalur bus. Tidak lama kemudian, salah seorang penumpang ribut dengan sang sopir minta dihentikan, tapi sang sopir tidak mau menghentikan busnya.
Akhirnya terjadi keributan kecil yang suaranya tidak jelas karena aku duduk di atas. Beberapa menit kemudian sopir berteriak, “Jumpo lok je hai siong pin tu lok je!” Semua turun dari mobil. Yang di atas juga turun. Semua penumpang turun. Aku pun ikut turun. “Dasar supirnya lagi error!” dalam hatiku, menghardik sang sopir.
Kulihat di sekir situ tidak ada bus lewat dan sepi. Mataku mencari cari tulisan MTR di sekeliling situ. Alhamdulilah, sambil berjalan tanpa arah (karena bagiku itu tempat asing dan aku belum pernah melewatinya), aku temukan tulisan MTR Jordan Stasiun, langsung ku menuju ke arah sana.
Karena Octopus Card-ku hilang, aku harus membeli lagi yang sekali pakai, A Magnetig Single Journey Ticket For Adult, kupencet-pencet di mesin pembelian tiket untuk jurusan Causeway Bay seharga HKD 11.
Setelah tiket kluar dari mesin, aku coba cari Railway jurusan ke Caseway Bay. Ternyata tidak kutemukan juga. Yang ada jurusan Tuen Mun dan Hung Hom.
Anehnya lagi, di situ tidak banyak orang alias sepi, padahal hari Minggu. Aku naik turun eskalator mancari yang jurusan Caseway Bay, tidak juga menemukan. Aku berhenti dan SMS Abiku. “Bi, Lutfi tersesat naik bus, sopirnya error!” Abiku langsung membalas SMS-ku: “Mungkin tadi Lutfi lupa baca doa naik kendaraan!” Kujawab, “Udah baca bismillah, Bi, dan baca solawat di bus, tapi sambil ngantuk.” Abiku SMS lagi, “Hadapi……. Hayati…… Nikmati”.
Rima khumaira, Ust. Fauzi, Aku, dan Tati di Kantor DDHK.*
AKU mulai melangkahkan kaki mencari Caunter Service. Alhamdulilah, kutemukan juga dan aku langsung bertanya, “Emkoi ngo siong man ha hai Dong Lowan tap mea tedit?” (Permisi saya mau tanya ke Caseway Bay naik MTR apa ya?). Dengan ramahnya, laki-laki itu menjelaskan, “Cece lei yatteng cuin je liong ji” (Mbak kamu harus oper dua kali), sambil menunjukan dan memberikanya MTR System Map. Kujawab, “Emkoi say!” (terima kasih), terus aku pergi.
Ternyata posisiku saat itu di Jordan West Station, seharusnya di Jordan East. Aku pun langsung naik MTR, mengambil jurusan Tuen Mun West Rail Line, turun di Nam Cheung, oper jurusan Hong Kong Island, berhenti di stasiun Central. Stasiun ini sangat besar dan luas. Banyak orang karena stasiun ini berakhirnya dari arah Tung Cung, Tsuen Wan, Air Port, dan sheung Wan. Dari Central menuju Causeway Bay melewati dua stasiun, yaitu Admiralti, Wan chai, dan Caseway Bay.
Tepat jam 11.00 aku tiba di Caseway Bay, keluar exit E. Ternyata jalan ditutup karena ada Lari Maraton yang diadakan Standard Chartered Hong Kong, harus menunggu lama untuk bisa menyeberang jalan itu.
Setelah bisa menyeberang jalan, langkahku kupercepat, sedikit lari kecil, menerobos orang-orang di jalan, langsung menuju MI DDHK untuk belajar menjahit yang seharusnya dimulai jam 10 pagi –aku terlambat 1 jam lebih dan berakhir jam 1 siang.
Usai belajar, aku langsung menunaikan sholat Dhuhur, lalu makan siang di PERI (Rumah Perantau Indonesia –kantin halal food, pelaksanaan program ekonomi kemandirian milik DDHK).
Setelah makan siang, Tati Tia Surati menelponku, “Assalamualaikum , Mbak Lutfi, Mbak Umi (koordinator volunteer DDHK, Red) bilang, Ibu Sendra ada di Chai Wan, kalau Mbak Lutfi ke sana, tolong motret kegiatan DDHK ya!” Saya jawab, “Wa’alaikum salam, insya Allah.” Jam sudah menunjukan pukul 2 siang, aku pun langsung meluncur ke Chai Wan.
Sesampai di Chai Wan langsung kukeluarkan kamera, memotret yang dipesan Tati, bersilaturahim dengan Volunteer DDHK yang mengikuti Bazar yag diadakan KJRI HK, juga beberapa organisasi BMI HK.
Setelah memotret aku naik ke Aula Islamic Kasim Tuet Memorial College Chai Wan, karena di situ ada pengajian. Dalam perjalanan, di tangga, aku bertemu Kace Ketua GOLPINDO. Kami pun saling menyapa. Sampai di pintu masuk, disambut panitia, kebetulan panitianya ketua Halaqoh Sabtu, Ibu Retno Uswatun Khasanah. Kami pun mengucapkan salam sambil berpelukan, seperti teletubis hehehe…, karena kita lama tidak bertemu –hari libur kami  berbeda.
Sampai di aula aku menyapa Rima Khumaira yang lagi sibuk shooting acara dari tim DDHK News dan teman-teman lain yang ikut acara di sana. Tiba-tiba HP-ku bergetar, kuraih dari balik bajuku, ternyata Tati Tia Surati yang telefon. “Assalamu’alaikum, Mbak, Bu Sendra sekarang berada di KJRI,” tanpa ngobrol panjang, aku pun meluncur ke KJRI dengan naik MTR.
Sesampai di KJRI, Satpam melarangku masuk ke lantai 10. Padahal, aku sudah bilang kalau sudah bikin janji ketemu Bu Sendra Utami di KJRI. Satpam bilang, tunggu Bu Sendra selesei rapat. Aku pun menunggu sambil duduk manis di Lobi KJRI sambil SMS-an dengan Tati.
Rapat pun selesai. Bun Sendra keluar bersamaan dengan Tati yang kebetulan ikut rapat. Bu Sendra dengan senyum ramah menyapaku, mengajak Kami (aku dan Tati) untuk masuk di ruang kerjanya. Kami bincang-bincang sebentar. Setelah mendapatkan penjelasan dari beliau, kami berdua pun pamit pulang menuju kantor DDHK untuk melaksanakan shalat Ashar.
Usai shalat Ashar, aku dan Tati menuju ke Tenda Putih Victoria Park karen kegiatan Ulil Albab DDHK di sana ada kegiatan rutin sholat Magrib berjamaah yang sebelumnya ada kajian sore yang disampaikan oleh Ustadz Tim SDSB (Satu Da’i Seribu Berkah) DDHK.
Rupanya kedatangan kami terlambat. Laskar Ulil Albab sudah berkumpul dan tausiyah sedang berlangsung. Saat itu tausiyah disampaikan oleh Ust. Masagus Fauzan Yayan, pemilik Rumah Tahfidz Terapung di Palembang. Beliau datang ke Hong Kong atas tugas yang diberikan oleh Ust. Yusuf Mansur (PPA Darul Quran) untuk mengajari teman-teman di Rumah Tahfidz Hong Kong.
Usai tausiyah, kami melaksanakan shalat Magrib berjamah, diimami GM DDHK Ust. Ahmad Fauzi Qosim. Tampak yang ikut shalat dari kaum adam Ust. Masagus Fauzan Yayan, Ustadz Triyono Hari Kuntjoro, Ustadz Ali Makmun, dan TKL Pak Roikan.
Usai shalat Magrib, kami pun bubar, kembali ke Kantor DDHK. Kami semua berjalan kaki menuju kantor DDHK.  Tapi sebelum kembali ke kantor, saya dan Tati berbincang-bincang dengan ustadz yang ramah dan murah senyum yang akrab disapa Ustazd Fauzan.
Saat aku mau beranjak pergi, beliau menyodorkan buku karyanya yg berjudul Kiat Jitu Bersahabat dengan Alquran. “Buku ini buat Mbak Lutfi,” katanya. Kuraih buku itu dengan senang hati, kuucapkan terima kasih banyak. Alhamdulillah…! (Lutfiana Wakhid/ddhongkong.org).*

No comments:

Post a Comment