Thursday, August 30, 2012

Ketika Cinta Bersemi di Yahoo Messenger

Yahoo MessengerSINTA nama panggilanku. Aku bekerja di Hong Kong sejak tahun 2007. Awal datang ke Hong Kong aku masih belum banyak teman karena aku termasuk orang tipe pendiam, “gaptek” (gagap teknologi), dan saat itu aku harus mengalami potongan gaji selama tujuh bulan dan tanpa libur.
Tugasku menjaga seorang bayi yang baru lahir, di daerah Shatin. Majikanku melarangku telepon dengan alasan takut bayinya kurang terurus gara-gara telepon. Aku pun bisa mematuhi peraturan itu.
Tujuh bulan tanpa libur telah kulalui. Libur pertamaku aku ke daerah Causeway Bay, menemui tetanggaku yang biasa menghabiskan waktu libur di Victoria Park. Ia mengajakku jalan jalan. Aku waktu itu masih ngikut saja karena aku tidak tahu arah dan belum hafal daerah Hong Kong.
Libur berikutnya aku pun menemui tetanggaku. Aku diajak ke sebuah warnet di daerah Causeway Bay. Ternyata hampir 90 persen yang lagi ngenet para BMI. Aku pun merasa… “Waaaah……. keren, bisa mainan komputer”. Aku tanya kepada tetanggaku, “Mbak, kita ngapain ke sini?”. Ia jawab, “Kita main”. “Aku ‘ga bisa Mbak.” “Jangan khawatir, nanti ‘ta ajari.”. Aku pun merasa senang.
Aku pun dibuatkan akun di Yahoo! Messengger (YM) dan diajarinya. Saat itu juga, aku langsung bisa dan langsung menggandrungi YM yang selama ini tidak aku kenal. Aku mulai banyak teman di dunia maya. Sungguh mengasyikkan chating di YM kala itu. Aku banyak teman dari berbagai negara –Korea, Jepang, Taiwan, juga Malaysia.
Di YM itulah akhirnya aku kenal dengan Rama, TKI asal Banyuwangi yang sedang bekerja di Tokyo, Jepang. Setiap minggu aku chating dengan Rama, sekadar ngobrol dan cerita-cerita. Suatu ketika Rama menyatakan suka padaku. Aku pun begitu. Pepatah Jawa bilang,  Tresno jalaran soko kulino (cinta karena terbiasa). Saat itulah aku terima cinta Rama dan resmi “pacaran” di YM dan saling tukar nomor telepon.
Tak terasa, perkenalanku dengan Rama hampir tiga tahun. Dia sangat perhatian dan sayang sama aku. Di sela sela waktu senggangnya dia selalu menghubungiku via telepon. Dia tipe laki-laki yang tidak pelit. Ia sukangasih surprise dengan ngirim hadiah-hadiah kecil untukku. Pernah juga saat aku mendadak butuh uang dan bilang pinjam uang, aku langsung dikirimi uang sekitar tiga jutaan.
Kami pun berencana pulang ke tanah air untuk menikah. Rama pesan ke aku finish kontrak, jangan nambah lagi, kita pulang, nikah. Aku pun setuju, walaupun saat itu kontraku kurang setahun dan kontrak dia kurang 1,5 tahun. Aku yang lebih awal pulang duluan, jarak satu tahun dengan dia.
Finish kontrak pada akhir tahun 2011. Aku pun pulang ke tanah air mengikuti saran Rama dan sudah menjadi keputusanku untuk menunggu kepulangan Rama dari Jepang. Hampir setahun aku berada di tanah air dan uang pun makin lama makin menipis karena tidak ada pemasukan.
Penantian pun telah tiba, Rama pulang dari Jepang. Dia berkunjung ke rumahku untuk bersilaturahmi dengan keluargaku. Aku senang. Kupikir dia akan segera melamar dan menikahiku. Ternyata tidak. Aku sebagai perempuan hanya menunggu dan menunggu dengan perasaan gelisah dan galau.
Setelah dari rumahku, ada sedikit perubahan sikapnya. Beberapa bulan kemudian, aku memberanikan diri menanyakan kepada Rama, kapan akan menikahiku. Aku ingin kita menikah sekarang. Aku sudah menunggumu setahun di Indonesia. Ternyata, jawabnya: “Aku mau menikahimu sekarang juga, asal kamu mengembalikan uang yang pernah kau pinjam tiga juta, sekarang juga!” Aku bagaikan disambar petir, kaget, dan hancur hatiku. Sikap Rama yang dulu lembut, penyayang, baik, dan ‘ga pernah peritungan, sekarang berubah.
Aku berusaha bersabar dan selalu berdoa mengharap pada Allah agar Rama kembali sayang padaku seperti dulu dan berharap dia menikahiku. Semua kluargaku sudah mengetahui hubunganku dengan Rama sejak aku di Hong Kong.
Tiga bulan kemudian, Allah mengabulkan doaku. Rama datang melamarku dan menikahiku. Aku bahagia sekali waktu itu, biarpun acara pernikahanku sangat sederhana, hanya dihadiri keluargaku.
Setelah itu aku diboyong ke rumahnya. Kebahagiaan yang kurasakan makin hari makin berkurang dan berubah jadi tekanan batin tersendiri. Rama, suamiku, tidak seperti Rama yang kukenal di YM dulu. Sikapnya cuek dan dingin. Aku pun ingin merasakan kebahagiaan seorang istri yang disayang suami. Dia bersikap hangat padaku ketika dia “minta jatah”. Akan tetapi di luar itu, semua sikapnya dingin, bahkan seperti orang yang tidak dikenal. Kadang ia menyuruhku seenaknya saja, memperlakukanku seperti seorang pembantu. Dia benar-benar tidak menghargaiku.
Suatu ketika, aku diajak  keluar rumah dengan mengendarai sedah hitam. Aku senang sekali diajak suami keluar rumah. Kupikir jalan-jalan atau shopping, memanjakanku. Ternyata aku diajak ke bank untuk memasukkan uang untuk ditabung. Seumur hidup baru sekali aku melihat beberapa tumpukan uang. Aku pun senang dan bangga melihat uang suamiku banyak.
Ternyata, sesampai di rumah, sikap suami kembali dingin. Aku berusaha untuk berkomunikasi dengan baik, tetapi aku mendapat respon yang kurang baik. Aku pun mengambil kesimpulan sikap yang membuat Rama berubah terhadapku karena keadaan ekonomiku yang tidak sesuai harapanya. Aku tidak punya apa-apa. Mungkin yang dipikirkan Rama selama ini setiap orang yang bekerja di Hong Kong punya uang banyak.
Aku mencoba minta izin ke Rama untuk kembali bekerja di Hong Kong. Saat itu juga Rama memberiku izin. Bukan senang yang kurasakan mendapat izin itu, namun hatiku ingin menjerit dan menangis mendengar dia mengizinkan aku pergi ke Hong Kong. Dalam hatiku, apa maksud dia menikahiku, apa karena terpaksa, dan sikapnya yang dingin selama ini karena dia kecewa dengan keadaanku yang tidak berduit, padahal dari luar negeri, sedang dia ratusan juta yang dia bawa dari Jepang. Seharusnya pengantin baru merasakan bulan madu, tapi yang kurasakan “bulan empedu”.
Aku berharap teman-teman berhati-hati berkenalan di YM, Facebook,Twitter, Skype, dan media online lainnya. Kebanyakan orang menganggap BMI Hong Kong itu berduit. Semua yang terjadi, kuambil hikmahnya. (Seperti dituturkan kepada Lutfiana Wakhid/ddhongkong.org).*

No comments:

Post a Comment