Thursday, August 30, 2012

Dikira Orang Pakistan, Aku Dipeluk Teh Ninih!


lutfiana wakhidSelama dalam kasus labour, imigrasi Hong Kong melarang siapa pun untuk bekerja karena tidak mempunyai visa kerja. Jika bekerja dan ketahuan polisi imigrasi, bisa masuk penjara!
Hidup di luar, tanpa majikan, dengan uang pas-pasan sisa 1 bulan gaji dan sisa uang yang telah kukirim kepada orangtuaku di kampung, membuatku nekad menerima tawaran kerja part time, biarpun berisiko.
Tinggal di Asrama Asburi dengan beberapa teman BMI yang juga bermasalah tidak membuatku sedih karena tidak hanya aku yang mengalami masalah. Kami tidur beralaskan kasur tipis yang digelar di lantai saat malam menjelang tidur dan dilipat rapi saat bagun tidur.
Tersedia kamar dan ranjang bertingkat, tapi sudah ada penghuninya, yaitu mereka yang sudah lama tinggal di asrama –bisa di bilang “kepala suku”. Aku dan teman-teman yang masih baru harus tidur di lantai, berdesak-desakan, bak ikan pindang dalam keranjang. Aku sih oke-oke saja tidur di mana pun, bisa nyenyak, asal sudah nguantuk puol! Begitu juga soal makanan, tidak pilih-pilih, yang penting halal.
Suatu ketika aku ditawari teman untuk kerja part time, sama majikan yang pidah rumah. Satu jamnya HKD 50, kalau 5 jam tinggal mengalikan saja. Aku mulai kerja dari jam 8 pagi sampai jam 3 siang.
Tahu sendiri yang namanya pindahan rumah. Banyak barang diangkut ke rumah baru, tidak ubahnya kerjaku seperti tukang angkut barang, juga membersihkan rumah baru, tapi aku tidak menerima kerja di luar rumah yang berbahaya bagiku.
Semua pekerjaanku kukerjakan dengan senang, lillahita’ala, sambil berseliweran di benakku gambar uang dan uang. Alhamdulilah, bisa nyambung hidup di Hong Kong yang “semuanya” harus dengan uang.
Setengah hari kerja part time mendapat uang HKD 400 yang seharusnya aku terima HKD 350. Si bos baik, jadi di tambah 50 untuk ongkos pulang ke Causeway Bay.
Sehari dapat part time, lima hari menganggur. Begitu seterusnya. Alhamdulillah, pengeluaran bisa sedikit terkurangi karena aku suka puasa sunnah Senin dan Kamis. Ternyata puasa sunnah Senin dan Kamis, selain dapat pahala, juga bisa menghemat uang. Aku selalu berdoa, Ya Allah, apa yang aku lakukan ikhlas karena-Mu, tapi maafkan hamba-Mu jika kadang puasa yang kulakukan karena aku tidak punya uang, tapi saya ikhlas Ya Rabb.
Masih teringat betul hari Senin badanku terasa kurang enak. Usai shalat Subuh aku tidur sampai waktu menjelang Dhuha. Aku bangun dan sholat Duha lalu bermalas-malasan sampai menjelang Dhuhur . Tepat jam 1 siang aku bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri, persiapan shalat Dhuhur.
Di  asrama kalau siang  tidak ada orang yang antre di kamar mandi. Kalau pagi aku lebih memilih pergi ke kamar mandi umum di Victoria Park yang biasa dipakai orang-orang mandi setelah berolahraga.
Usai shalat Dhuhur, tepat jam 2 siang, aku berjalan kaki menujuMasjid Ammar Wan Chai, 40 Oi Kwan Road Wn Chai . Sendirian.
Sampai di masjid lantai 3, teman-teman Halaqoh sudah berkumpul, sedang mendengarkan tausiyah yang disampaikan oleh Teh Ninih Mutmainah dari Bandung (mantan istri Aa Gym). Kuucapkan salam. Aku mendekati mereka. Semua jamaah membalas salamku.
Hari itu pertama kali aku melihat dengan jarak dekat Teh Ninih. Aku termasuk jamaah yang datangnya terlambat dan paling akhir. Di hadapan para jamaah, Teh Ninik bilang, “Orang ini apa ngerti dengan bahasaa kita ya, kok ikut bergabung dengan kita?”. Oh iya, di masjid Ammar Wanchai banyak sekali wanita Muslimah asal Pakistan. Mungkin mereka mengira aku juga orang Pakistan!
Dengan senyum aku menjawab, ” Saya orang Indonesia, Bu Ustadzah, bukan orang Pakistan”. Spontan seluruh jamaah memandang ke arahku. Teh Ninih lalu bilang,  “Subhanallah, saya kira Mbak orang Pakistan, ke sini, kedepan duduk bareng saya!”
teh ninihAku pun ke depan dan bersalaman. Teh Ninih memeluk, mencium pipiku, dan sambil tersenyum berkata, “Mohon maaf ya, Mbak…!” Aku jawab, “Ga apa-apa, Bu…!” sambil tersenyum sedikit lebar, sampe kelihatan pagar kawat gigiku alias behelku.
Semalam aku mimpi apa ya, kok ada ustadzah mencium pipiku! Untung aku berangkat mandi dulu!
Usai pengajian dan shalat Ashar berjamaah, pengurus mengajak Teh Ninih yang datang ke Hong Kong bersama adiknya mengajak jalan-jalan ke The Peak. Aku pun diajaknya karena aku juga belum pernah kesana.
Victoria Peak adalah gunung di Hong Kong, dikenal juga sebagai Gunung Austin, gunung tertinggi di HK dengan ketinggian 552 m (1.1811 kaki). The Peak mempunyai daya tarik wisata yang menawarkan pemandangan tengah Victoria Harbour dan pulau-pulau di sekitarnya. Banyak tempat indah di dalamnya. Juga ada miniatur orang-orang terkenal di dunia (museum lilin Madame Tussauds Hong Kong) dan shoping mall-nya.
MEMASUKI bulan Ramadhan, tepatnya pertengahan Agustus 2007, aku begitu senang. Aku bahagia dengan datangnya bulan yang penuh berkah dan ampunan itu. Hari-hariku kuhabiskan di masjid. Setelah sholat Dhuha di asrama, pasti aku ke masjid sambil membawa tas berisi Al-Quran dengan terjemahan bahasa Indonesia.
Seperti biasa, memasuki masjid aku selalu mengucapkan salam kepada mereka yang ada di dalam masjid. Mereka menjawab salamku, tapi sama sekali tidak pernah mengajakku ngobrol! Aku pun memilih diam dan duduk di kursi tempat orang tua untuk sholat yang sudah tidak mampu berdiri. Aku duduk di situ sambil mengaji dengan suara pelan.
Terdengar suara teman-teman yang lagi asyik ngobrol, sepertinya sedang membicarakanku. Aku tetap meneruskan bacaan Al-Quranku. Terdengar dengan jelas, salah satu di antara mereka bilang, “Orang itu yang dibaca kok Al-Quran terjemahan Indonesia ya, apa dia bisa baca-tulis dan ngerti?” Teman yang satunya menimpali, “Yang mana sih?”
“Yang itu tuh, duduk di tempat duduknya org tua untuk sholat,” temannya berusaha menjelaskan. “Oooo….. Kamu kok tahu kalau yang dibaca Al-Quran dengan terjemahan bahasa Indonesia?” “Ya aku tadi lewat di sampingnya”.
Setelah selesei mengaji, kututup Al-Quranku dan kucium, lalu kumasukkan ke tas. Aku tersenyum menoleh ke arah mereka yang lagi asyik ngobrol dan menyapa mereka. “Mbak, saya orang Indonesia lho….” Mereka serentak seperti paduan suara “Haaaaaaaaaaa……..! Hehehe maaf ya, Mbak, dengar kita ngomongin Mbak ya?” “Gak apa-apa,” jawabku dengan senyum.
Usai shalat Maghrib dan berbuka puasa di kantin masjid lantai 5, jika ada nasi kotak lebih, petugas masjid sering menawariku bawa nasi untuk sahur. Aku pun menerima dengan senang hati. Aku selalu mengucapkan emkoi sai (terima kasih) kepada wanita setengah baya yang ada di kantin itu. Aku pergi meninggalkan masjid dan berjalan menuju Mushola Al-Fallah KJRI, di lantai 4 Indonesian Building. Aku shalat Isya dan Tarawih di sana.
Sampai di asrama, tiba-tiba HP-ku bergetar. Aku pun mengangkatnya.Ternyata temanku, orang Pati, Jawa Tengah. Ia menawarkan kerja part time, menjaga dan mengurus makanan seorang nenek selama seminggu di daerak Chi Fu Fa Yuen Pok Fulam, karena pembantunya dan majikan muda di Rumah Sakit.
Bayarannya HKD 120 per hari. Aku merasa senang kerja part time di situ karena orangnya baik. Untuk masakan juga gampang. Siang hari terakhir aku part time tetangga flat sebelah, seorang kakek 85 tahun, melakukan bunuh diri dengan meloncat dari jendela kamar. Sang pembantu yang juga temeaku langsung pencet No. 999, nomor gawat-darurat kepolisian Hong Kong.
Beberapa menit kemudian, polisi datang. Jumlahnya 10 orang lebih, dengan ambulans. Aku menengok dari jendela ruang tamu (rumah tempatku kerja di lantai 20/F). Polisi mengangkat tubuh tua renta yang tergeletak di taman bawah building. Kemungkinan besar dia sudah mati.
Beberapa polisi memeriksa rumah tempat tinggalnya, juga mengintograsi sang pembantunya. Oh iya, temenku itu menjaga dua orang manula, kakek dan nenek.
Salah satu polisi juga menanyai penghuni rumah di sekitar, di flat kami, termasuk di tempatku bekerja itu.
Ting Tong ting tong! Bunyi pintu masuk rumahku berbunyi. Aku pun berjalan menuju pintu dan mengintip dari lobang pintu yang kecil itu. Hatiku saat itu berdebar-debar, ketakutan, kok ada polisi ke sini? Bagaimana kalau ia menangkapku karen aku tidak punya visa kerja? Bisa berabe masuk penjara! Oh tidak! Ya Allah, lindungi aku.
Aku masuk ke dalam dan memberitahukan kepada nenek yang masih sehat itu, bahwa di luar ada polisi. Aku masuk kamar mandi untuk bersembunyi dan tak henti-hentinya berdoa.
Usai melayani polisi, nenek menyuruhku keluar dari kamar mandi. “Lulu, jut lei lah jak yan cao colah (Lulu keluarlah, polisi sudah pergi)!” Dengan tubuh masih bergetar, aku pun membuka pintu kamar mandi sambil mengucapkan hamdalah.
Aku ngobrol sama nenek yang masih “genit” itu. Biarpun usianya hampir 90 tahun, tapi dia sehat. Dia banyak cerita tentang tetangganya, si kakek yang melakukan terjun bebas itu. Dikatakannya, kakek itu bukan menguji kehebatan ilmu, tapi sengaja bunuh diri karena ingin mati. Penyebabnya, ia sudah bertahun-tahun sakit. Konon dia punya anak laki-laki yang kerja di pemerintahan Hong Kong dengan gaji yang cukup tinggi, tetapi dia tidak tinggal bersama orang tuanya. Orang tuanya hanya ditemani seorang pembantu dari Indonesia.
Dulu si kakek itu juga pernah akan melakukan bunuh diri saat sakitnya kambuh, tapi rencana bunuh dirinya gagal karena diketahui oleh pembantunya.
Usai makan malam dengan sang majikan, aku pun berpamitan pulang. Dengan senang hati aku terima uangpart time selama seminggu. Alhamdulilah. Tak henti-hentinya aku bersyukur. Sesekali aku juga teringat kejadian siang tadi. Aku jadi banyak memikirkan tentang untuk apa hidup dan memikirkan kematian. (Lutfiana Wakhid/ddhongkong.org).*

No comments:

Post a Comment