Wednesday, August 22, 2012

Demi Berita, Kuhadapi Dingin dan Pria mabuk di Bus


Pra-imlek aku disibukkan dengan tugas bersih-bersih rumah dan bikin kue Lobak Ko  (kue yang terbuat dari lobak putih), Wudao Ko  (terbuat dari talas), dan Madai Ko (dari tepung water chestnut). Imlek jatuh pada tanggal 23 Januari. Sebenarnya mulai tanggal 22, 23, 24 adalah hari libur nasional di Hong Kong. Berhubung majikan membutuhkan tenagaku, akhirnya aku tidak libur dan diganti uang.
Tiga hari itu aku sibuk dengan urusan menu makan buat keluarga besar majikan. Alhamdulilah, karena dulu sering diajak makan keluar di restoran mewah, aku pun belajar meniru yang hasil masakanku juga tidak kalah enak dengan di restoran. Tampilan yang menarik, dihiasi bunga yang kubuat dari wortel, dan majikanku selalu bilang: “Wow! houlenga…. ngo sik tak em tak a” (bagus sekali aku boleh makan tidak), “Hmmmmm…. hou sika.. houme” (enak sekali lezat).
Tanggal 25 sudah tidak ada tamu datang ke rumah. Majikan pun memberiku libur. Jam 9 pagi aku berangkat untuk mencari liputan di daerah Shatin yang letaknya tidak jauh dari Tai Po.Aku berangkat dengan temenku, jamaah Majelis Taklim Sabtu Taipo, Ibu Suti. Kita janjian di McDonald. Cuaca saat itu kurang bagus karena udara sangat dingin mencapai 5 derajat, ditambah lagi gerimis. Kami membuka satu payung untuk ke stasiun Bus K12, ongkos HKD 3.40 cent, tapi aku tidak perlu pakai uang receh karena aku bayarnya pakai Patadong (Octopus Card), kartu cerdik untuk pembayaran, BusK12 melaju ke Taipo Market terminal.
Setibanya di Taipo Market terminal, kami pindah naik KCR jaringan kereta yang di atas tanah yang dikelola oleh (Kowloon-Canton-Railway) menuju Shatin. Dari Stasiun Tai Po Market, kami akan melewati Univercsity, Fo Tan, dan sampailah di Sha Tin. Aku pun kluar dari KCR di Exit B, menembus plasa dan keluar ke Sha Tin Park, langsung bertemu dengan panitia pengajian.
Rencana sebelumnya, pengajian diadakan di lapangan rumput Sha Tin. Berhubung cuaca hujan, pengajian pun di pindah ke taman yang ada atapnya sehingga jamaah tidak kehujanan. Dengan beralas terpal dan plastik, jamaah dengan semangat mendengarkan tausiah dari Ustadz Muhammad Nata dari Az-Zikra Jakarta dan Ustadz Asmari Qori Nasional.
Udara makin terasa dingin. Suhu udara 5 derajat Celcius. Walaupun aku sudah menempelkan dua Warm Pad (penghangat tubuh) yang masih kubalut tubuhku dengan jaket tebal dan kalung surban yang melingkar di leherku, aku masih menggigil kedinginan.
Setelah memotret dan wawancara ustadnya, sebentar aku pamit ke panitia untuk undur diri. Kuraih Puilong (tas punggung) dan kucari-cari payung yang tadi aku pakai, ternyata tidak ada di saku luar tasku, juga tidak ada di dalam tasku, kucari-cari di sekelilingku juga tidak ada.
Aku semakin yakin, payungku hilang. Salah satu pengurus MT Sabtu Tai Po, Fadhilah Zahra, menawariku payungnya untukku, tapi aku menolaknya, dan meminta kepada panitia plastik putih yang dipakai mereka untuk alas duduk. Sebenarnya plastik ini untuk taplak meja makan yang sekali pakai langsung dibuang ke lap sap dong (tong sampah).
Dalam keadaan darurat, aku memakai plastik ini untuk melindungi tubuhku dari guyuran air dari langit alias hujan rintik-rintik yang disambut semilir angin yang menambah rasa dinginku. Bisa Anda bayangkan, penampilanku saat itu mirip seperti Superman dengan baju bersayap biru, bertuliskan S!
Sampai di Shatin Stasiun, kubuang plastik itu ke lap sap dong. Alhamdulilah, tubuhku tidak terkena air. Ku-“tut”-kan (bunyi mesin Octopus Card ketika kita mau masuk) Patadongku ke mesin pintu masuk di KCR. KCR melaju ke arah Kowloon Tong. Di situ aku harus pindah MTR yang harus di tempuh jalan kaki yang cukup lumayan jauh, kereta bawah tanah (Mass Transit Railway) jurusan Yau Ma Tei yang melewati Shek Kip Mei, Prince Edward, Mongkok dan terakhir Yau Ma Tei di sini aku oper (ganti) MTR yang tidak perlu berjalan jauh karena MTR sudah berada di sampingnya tapi haruss berjalan kaki sekitar 10 meter yg tidak perlu kluar dari kawasan itu.
Ganti MTR jurusan Central yang melewati Jordan, Tsim Sha Tsui, dan Admiralty yang mengharuskan aku pindah lagi jurusan Chai Wan, karena aku harus turun di Causeway Bay yang tidak jauh dari Admiralty, hanya melewati 2 stasiun.
Sesampai di Caseway Bay stasiun, aku pun keluar dan kembali men-“tut” patadongku ke mesin di pintu keluar. Aku keluar melalui pintu MTR Causeway Bay Exit E dan langsung berjalan kaki menuju masjid Ammar Wan Chai yang beralamat di 40 Oi Kwan Road Wan Chai.
Aku berjalan kaki sangat cepat karena sudah “terbawa” kebiasaan orang Hong Kong yang jalanya cepat. Untung aku orangnya tidak suka memakai sepatu yang berhak tinggi, jadi jalanku bisa cepat seperti mereka. 15 menit aku sampai di Masjid Ammar Wan Chai tepat jam 13.45, aku langsung ke tempat wudhu untuk mengambil air wudu, setelah itu aku menaiki tangga demi tangga masjid ke lantai 3 yang khusus untuk kaum hawa (women pray hall) untuk melaksanakan shalat Dhuhur.
Usai melaksanakan shalat Dhuhur, aku menemui pengurus Halaqoh Masjid Ammar Wan Chai. Waktu itu acaranya Halaqoh Bersatu (gabungan Halaqoh Senin sampai Halaqoh Minggu) menyambut Maulud Nabi SAW. Kuucapkan salam kepada mereka. “Assalamualaikum…” sambil kuulurkan tanganku untuk bersalaman dengan mereka satu per satu. Mereka pun menjawab salamku dan dengan ramah mengajaku duduk bersama.
Jamaah di Masjid memenui ruangan lantai 3 dan dingin yang kurasakan sejak dari Shatin Langsung hilang seketika, suhu udara kira-kira 20 derajat terasa hangatlah tubuhku, karena berada di ruang tertutup dan duduk beralaskan permadani yang indah menutupi seluruh lantai masjid.
Sambil menunggu Ustadz datang, grup shalawat dari Halaqoh Bersatu menampilkan shalawat dengan suaranya yang bagus dan kompak sebagai pengisi acara pertama.
Tepat pukul 15.00, Prof. Dr. KH. Udin Kamiludin (IAIN Cirebon) sebagai pembicara datang bersama Ust. Muhemin Karim (Excutive Dakwah IUHK) dan acara langsung dimulai. Hadir juga di situ perwakilan dari DDHK Ust. Ali Makmun,  Hj. Siti Fatimah Angelia dari Pondok Fatimah. Langsung saja aku keluarkan recorder (alat perekamku) dari dalam tas untuk merekam tausiyah yang diberikan Ust. Udin.
Ust. Udin menyampaikan tausiahnya dengan nada humoris yang tidak mengurangi makna isi tausiyahnya.Ia membacakan salah satu ayat Al-Quran yang terakhir ayatnya berakhiran huruf “Tak Marbuto”, ia menyebutkan begitu;  tak yang bundar di atasnya ada titiknya dua”. Jamaah yang hampir semuanya ibu-bu tertawa. Aku hanya tersenyum kecut (dalam hati kumengatakan, menertawakan apa sih mereka, ‘gak ada yang lucu kok, apa karena namanya Tak Marbuto yang sangat asing di telinga?).
Adzan berkumandang. Tausiyah berakhir. Kami pun shalat Ashar berjamaah di lantai 3, untuk kaum Adam shalat di lantai 2. Setelah shalat Ashar, perutku “berbunyi”. Ternyata aku lupa, belum makan siang!
Kuraih puilongku. Kucari makanan (kue kering) dalam tasku, lalu minum. Alhamdulilah, bisa mengganjal perutku. Saat aku makan kue, Ibu Siti Uridatul Farhah (Ketua Halaqoh Jumat) menyapaku: “Cantik, belum makan ya? Aku juga belum makan,” katanya.
Sebenarnya sih, aku kurang sreg kalau di panggil cantik. Ia paling suka panggil aku cantik (manis wong ayu). Yah…. untungnya ‘ga manggil aku “si cantik dari jembatan Ancol”, hi hi hi takuuut……!
Kuajaklah Bu Siti untuk makan bersama di Blitar Café, sekalian mengajak Ust. Udin Kamiludin dan Ust.Muhaemin Karim. Kami naik lift menuju lantai 7 untuk menemui Ust. Muhaemin di ruang kerjanya, tapi sayang sekali, Ust.Muhaemin sibuk, tidak bisa meninggalkan tempat kerjanya.
Akhirnya kami bertiga pergi makan di Blitar Cafe dengan berjalan kaki. Ust.Udin selalu berada di belakang kami, maklumlah saya dan Bu Siti sudah terbiasa jalan kaki cepat. Sengaja kami bertiga tidak naik Taxi karena daerah Masjid Ammar Wancai sangat sulit untuk mendapatkan taxi yang letaknya agak jauh dari keramaian.
Sambil jalan, sambil ngobrol, tak terasa sampai juga di tempat tujuan. Sempat bertemu jamaah Halaqoh Jumat yang menjual Majalah Iqro terbitan DDHK dan membawa kotak amal. Kami pun berhenti sebentar, ngobrol, dan saya memotret mereka berfoto bareng Ust. Udin. Kami melanjutkan langkah menuju Blitar Cafe Halal Food di Shop 201, 2/Floor, Causeway Bay Centre, 19-23 Sugar Street Causeway Bay.
Tempat ini sudah tidak asing di kalangan BMI HK karena letaknya yang sangat strategis dan tidak jauh dari Victoria park dan tidak jauh dari KJRI HK.
Kedatangan kami bertiga disambut sangat ramah oleh Bu Hj.Siti Fatimah Angelia pemilik Pondok Fatimah, Blitar Cafe juga orang yang berjasa yang menciptakan kartu telepon ke Indonesia untuk WNI di Hongkong.
Kami bertiga memesan Bakso Tennis. Saya dan Ust.Udin memesan minuman Teh Tubruk tanpa gula dan Bu Siti Uridatul memesan minuman lai cha panas (teh susu). Bu Hj. Siti Fatimah menemani kami bertiga ngobrol. Tak terasa, waktu pun makin malam. Sekitar jam 8 Ust. Udin diantarkan pulang oleh Bu Siti ke rumah Ust.Muhaemin Karim di Wan Chai.
Saya dan Bu Hj. Siti Fatimah masih asyik ngobrol. Ia banyak bercerita tentang kisahnya dari A sampai Z. Tak terasa toko-toko di sekitar sudah mulai tutup. Aku pun berpamitan pulang. Bu Hj.Siti Fatimah Memberiku kenang-kenangan berupa Majalah Sabililah dan Buku kecil Muslim Perkasa dan Pemberani –naskah khutbah Idul Fitri Hong Kong 1 Syawal 1432/Agustus 2011 yang disampaikan oleh Prof. Dr. KH.Moh. Ali Aziz.M.Ag (IAIN Sunan Ampel Surabaya).
Sambil mengulurkan buku itu padaku, Bu Siti Fatimah mengatakan, “Majalah ini ada foto idolamu, Ust.Ali Aziz, dan buku kecil ini isi khutbah beliau”. Kuterima dengan senang hati dan kuucapkan terima kasih banyak kepada  Bu Hj.Fatimah. Alhamdulilah dapat rezeki. Kami bersalaman sambil berpelukan lalu kuucapkan salam kepada beliau dan H.Ujang –suaminya, dan pergi meninggalkan Blitar Cafe.
Janji itu adalah utang. Aku punya janji mau ketemu Ust. Abu Saddan (praktisi Thibun Nabawi) untuk bertemu di rumah GM DDHK Ust. Ahmad Fauzi Qosim untuk belajar Thibun Nabawi karena pada tgl 22, 23, 24 aku ga libur.
Di rumah GM DDHK sudah banyak teman-teman BMI HK. Aku datang terlambat. Ada Ust. SDSB DHK Ust. Triyono Hari Kuncoro (Trainer Public Speaking dan pendongeng dari Yogyakarta), Ust. Masagus Fauzan Yayan (Pendiri Rumah Tahfidz Terapung Palembang), Bu Sri (Pendiri Rumah Tahfidz Ponorogo), Mas Irwan (SEFT Hong Kong), Ustadzah Badriyah Becce (Pengajar tilawah DDHK), Arin (LKT DDHK), dan masih banyak lagi.
Untuk konsultasi kesehatan dengan Ust. Abu Saddan harus antre karena aku datangnya terakhir, antrenya juga paling akhir. Jam 11 malam lebih, hampir jam 12 aku pun pamit pulang, karena rumahku sangat jauh dari Causeway Bay yang membutuhkan 1 jam perjalanan.
Aku berlari menuju depan Victoria Park karena di sanalah perhentian Bus 307 jurusan Tai Po. Alhamdulilah, tepat pukul 00.00 aku dapat bus. Aku pun langsung mencari tempat duduk dan sopirnya bilang “jo hai sion pin”, duduklah di bagian atas (karena busnya dua tingkat), kebetulan di bawah ada orang berambut pirang lagi mabuk karena miras, baunya menyengat hidung dan muntah mengeluarkan semua makanan yang telah masuk perut. Hiiiii….! Aku langsung naik dan duduk di depan sendiri.
Bus berjalan sekitar 15 menit, sopirnya kelihatan marah kepada penunpang mabuk itu, lalu menghentikan busnya beberapa menit, dan naik ke tingkat dua sambil berkata, “pei ngo jikan jikan” (beri aku tisu-tisu). Semua penumpang yang duduk di atas mengeluarkan tisu, diberikan ke sopir itu. Sopir melanjutkan laju bus dengan kencang. Aku terus berdoa, semoga tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Sesaat kemudian, bus dihentikan lagi. Sopir menyuruh semua penumpang turun, ganti bus No 271 yang jurusan Tai Po. Kami pun semua pindah ke bus tersebut. Ternyata sopir tersebut telefon polisi untuk membawa laki-laki berambut pirang yang tidak bisa ngomong Kantonis itu untuk dibawa Pak Polisi.
Alhamdulilah, sampai di rumah dengan selamat. Biarpun telat, jam dinding sudah menunjukan pukul 1 dini hari, aku langsung bergegas ambil air wudhu dan menjalankan sholat Isya’, ganti baju, langsung tidur berselimut tebal rangkap dua karena suhu udara di Tai Po sangat dingin dibanding wilayah Hong Kong Island dan Kowloon. (Lutfiana Wakhid/ddhongkong.org).*

No comments:

Post a Comment