Selamat datang Andah telah berkunjung ke blog saya. Sebelum melanjutkan membaca tulisan saya pasti Anda pasti sudah penasaran dengan judulnya " Liver liveris Jadi Ketawa Berjamaah".
Tatat sahabatku bilang blogku isinya campur aduk kayak GADO GADO he he he... gpplah blogku sendiri mau ku isi apa aja ya terserah wong saya empunya betul tidak!!!...
Pelagi terlihat indah karena mempunyai berbagai macam warna ada merah kuning hijau biru ungu oranye, kalau satu warna namanya bukan pelangi dong!.
Eh kok jadi ngomong ngalor ngidul to the poin aja ya, udah penasaran kayaknya. Minggu siang jam 2 tet aku udah mulai masuk kelas di ITN HK (Institut Thibbun Nabawi Hong Kong).Terlihat ruangan belum penuh. Aku datang lebih awal supaya mendapat tempat duduk yang paling depan bersama Nurin sahabatku yang jago masak Tom Yum sea food.
Pelajaran waktu itu sangat santai dan menyenangkan Dosenya Ust. Abu Syadza Rabbani praktisi Thibun Nabawi dari Solo yang familier dan low profil itu menyajikan materi dengan enak sehingga kita mudah untuk menerima dan memahami materi yang disampaikan, kebiasaanku ngantuk ga jadi ngantuk he he he pengalaman sekolah di tanah air suka ngantuk kalau pas pelajaran.(buka rahasia nih yeee.....)
Beliau menyampaikan tentang dakwah Thibbun Nabawi dan bekam dasar yang sebelumnya mengajak kami untuk senam otak. Di sela sela waktu mengajar beliau menceritakan salah satu santrinya di Macau yang beberapa hari sebelumnya beliau mengajar di sana. Waktu itu beliau membahas organ tubuh manusia yang paling penting adalah jantung, ginjal, hati yang didunia kedokteran disebut liver, paru paru dan limfa.
Ketika Ust. Abu hendak pulang dan kembali ke Hong Kong sang santri berpesan "Pak ustadz liver liveris ya" (maksud dia hati hati pak ustad). Spontan kami yang mendengar cerita pak dosen tanpa di komando seluruh penghuni ruangan pada ketawa berjamaah. @_@
Kalimat liver liveris pak ustad yang sangat asing di telinga untuk sebuah ucapan hati-hati pak ustadz membuat kami semua tidak bisa menahan tawa, karena baru pertama kali mendengar dan sungguh lucu. Tapi teman teman jangan sampai mengucapkan liver liveris ya sama temenya.
Tatat sahabatku bilang blogku isinya campur aduk kayak GADO GADO he he he... gpplah blogku sendiri mau ku isi apa aja ya terserah wong saya empunya betul tidak!!!...
Pelagi terlihat indah karena mempunyai berbagai macam warna ada merah kuning hijau biru ungu oranye, kalau satu warna namanya bukan pelangi dong!.
Eh kok jadi ngomong ngalor ngidul to the poin aja ya, udah penasaran kayaknya. Minggu siang jam 2 tet aku udah mulai masuk kelas di ITN HK (Institut Thibbun Nabawi Hong Kong).Terlihat ruangan belum penuh. Aku datang lebih awal supaya mendapat tempat duduk yang paling depan bersama Nurin sahabatku yang jago masak Tom Yum sea food.
Pelajaran waktu itu sangat santai dan menyenangkan Dosenya Ust. Abu Syadza Rabbani praktisi Thibun Nabawi dari Solo yang familier dan low profil itu menyajikan materi dengan enak sehingga kita mudah untuk menerima dan memahami materi yang disampaikan, kebiasaanku ngantuk ga jadi ngantuk he he he pengalaman sekolah di tanah air suka ngantuk kalau pas pelajaran.(buka rahasia nih yeee.....)
Beliau menyampaikan tentang dakwah Thibbun Nabawi dan bekam dasar yang sebelumnya mengajak kami untuk senam otak. Di sela sela waktu mengajar beliau menceritakan salah satu santrinya di Macau yang beberapa hari sebelumnya beliau mengajar di sana. Waktu itu beliau membahas organ tubuh manusia yang paling penting adalah jantung, ginjal, hati yang didunia kedokteran disebut liver, paru paru dan limfa.
Ketika Ust. Abu hendak pulang dan kembali ke Hong Kong sang santri berpesan "Pak ustadz liver liveris ya" (maksud dia hati hati pak ustad). Spontan kami yang mendengar cerita pak dosen tanpa di komando seluruh penghuni ruangan pada ketawa berjamaah. @_@
Kalimat liver liveris pak ustad yang sangat asing di telinga untuk sebuah ucapan hati-hati pak ustadz membuat kami semua tidak bisa menahan tawa, karena baru pertama kali mendengar dan sungguh lucu. Tapi teman teman jangan sampai mengucapkan liver liveris ya sama temenya.
No comments:
Post a Comment