Kegiatan liburku, Hari Minggu, biasa kuisi dengan meliput kegiatan teman-teman BMI Hong Kong untuk dimuat di DDHK News. Pagi-pagi kusiapkan dulu obat dan sarapan buat mamaku,nenek 86 tahun yang aku jaga.Jam 9 pagi, setelah pekerjaan rumah beres, aku berangkat libur dengan membawa puilong (tas punggung) yang di dalamnya selalu berisi alat tulis, kamera, dan recorder — isi wajib dlm puilongku, termasuk sebotol air putih,kue kering, dan permen.
Dari terminal Tai Po Centre dekat rumah majikanku, aku naik bus No. 271 jurusan Tsim Sha Tsui (TST). Butuhkan waktu 45 menit untuk sampai di TST. Turun di depan Pacific Cafe Nathan Road, dari sini sudah tampak masjid yang berdiri kokoh banyak di kunjungi oleh BMI Hong Kong saat libur. Letak masjid ini sangat strategis, di pinggir jalan. Untuk ke masjid ini sangat mudah, naik MTR dan turun di TST Exit A1 dan Bus. Sampai di situ aku haruskomalo (nyebrang jalan), berjalan kaki sekitar 20 meter, sampailah di Masjid TST Kowloon itu.
Saat menyeberang jalan, kita harus melihat lampu rambu-rambukung caik (gambar boneka ) warna hijau. Kalau kita sembarangan “nerjang” lampu merah, maka jangan kaget kalau tiba-tiba ada polisi menangkap kita dan meminta ID Card HK untuk ditulis nomornya. Pak polisi akan mendenda kita sebesar HKD 1500. Begitu juga dengan membuang sampah sembarangan atau meludah sembarangan, akan kena denda uang sebesar HKD 1500. Bagi yang merokok di tempat yang bertuliskan dilarang merokok, akan kena denda sebesar HKD 5000.
Hong Kong alias “Negeri Jacky Chan” dan “negeri beton” ini terlihat sangat bersih, rapi, juga tertib dengan budaya antre yang sangat baik. Jarang sekali terjadi kemacetan.
Ketika langkahku hampir di dekat Masjid TST, aku dikejutkan dengan sosok laki-laki 60 tahunan yang sudah tidak asing lagi. Dia berdiri di depan pintu pagar masjid. Dialah Antony Wong, orang yang berjasa membantuku dalam kasus labour (perselisihan kerja dengan majikan).
Kami pun akhirnya ngobrol sebentar. Setelah itu, aku harus pamit dan meninggalkan dia, dan langsung masuk masjid karena pengajian hampir dimulai.
Pengajian yang diadakan oleh Hidayatul Hhsan –organisasi Islam BMI HK– dalam miladnya yang ke 4 itu mendatangkan dua ustadz, yaitu Ust. Fuad Ginan Burhanudin dari Bandung dan Ust. Idris Al-Marbawy dari Malang. Setelah mewawancara kedua ustadz itu, aku mengikuti acara sampai Dhuhur.
Dari Masjid TST aku langsung meluncur ke Causeway Bay, menuju kantor Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK), dengan naik kendaraan favorit di Hong Kong dengan pembayaran memakai Octopus Card, kartu cerdik yag sangat mudah digunakan dan sangat efisien, Mass Transit Railway (MTR) jurusan Central, yang harus pindah di Admiralty mengambil jurusan Chai Wan.
Untuk ganti MTR kita tidak perlu keluar lokasi, cukup berjalan kaki kira-kira 20 meter. Dari Admiralty kita melewati dua stasiun, Wanchai dan Causeway Bay. Sampailah aku di sana dan keluar melalui Causeway Bay Exit E dengan mempercepat langkah kakiku menuju ke kantor DDHK.
Sampai di kantor DDHK, Tati Tia Surati, teman sesama reporter DDHK News menelponku. Dengan suaranya khas, terdengar: “Assalamualaikum Mbak, ayuk kita ke Fotres Hill, Just Dance Café, di sana ada acara, ta tunggu ya! Aku sekarang di markasnya LSO (Lentera Sukses Organisasi) bawah jembatan Victory!”
Tati sudah menungguku di Markas LSO. Kami pun memilih berjalan kaki aja untuk ke lokasi. Aku harus berlari kecil mengikuti irama kaki Tati yang langkahnya “lebih panjang” dari langkahku. Maklum, dia orangnya lebih tinggi dari aku. Dalam hatiku, untung Rima (reporter DDHK News lainnya) tidak ikut. Mungkin kalau ikut, dia pasti di urutan ketiga. Rima paling kecil dan paling imut, he he… Untungnya bukan amit-amit. Kalau kita sedang bertiga, sangat rame sekali. Chief Editor kami sering menjuluki kami bertiga “Trio Macan”, tapi trio macan yang ini sholihah looo…. ‘ga galak, ha ha ha… Amiiin…!
Sambil ngobrol, tak terasa akhirnya kami sampai di Fotres Hill, Just Dance Cafe, acara Tabloid Apa Kabar Indonesia Anniversary 6 th & Ak Fun Club hampir selesai. Di sana tampak Mbak Yuni Ze yang menjadi MC. Bapak Nanang, Direc AK, dan Mas Rozak dari koran Klick, dan masih banyak teman yang lain.
Usai acara, aku mengikuti pelatihan jurnalistik yang hanya diikuti beberapa orang, dengan pembicara Pak Nanang dan Mas Rozak. “Sebelum menjadi penulis yang baik, harus menjadi pembaca yang baik,” kata Pak Nanang.
Dengan bahasa yang ringan dan ramah, ia menyampaikan materi dengan menyenangkan yang diselingi cerita. Begitu juga dengan Mas Rozak yang juga mau berbagi ilmunya tentang kepenulisan.
Tepat jam 6 acara pun berakhir. Sebelum meninggalkan tempat, kami berdua menuju ke toilet untuk mengambil air wudhu, sebagai “bekal “ menuju acara Ulil Albaab DDHK –kegiatan rutin sholat Maghrib berjamaah di Victoria Park.
Sampai di Causeway Bay, kami pun berpisah. Tati meliput kegiatan Ulil Albab DDHK. Aku ke Rumah Tahfidz Hong Kong (RTHK), sholat Maghrib, dan makan malam di Rumah Daqu (rumah makan milik RTHK milik Ustadz Yusuf Mansur), sebelahnya KJRI HK, tepatnya di 1/F No. 125 Rita House Causeway Bay.
Selesai di RTHK, aku ke Kantor DDHK, bertemu dengan Ust. Ahmad fauzi Qosim (GM DDHK) yang baru pulang dari Indonesia untuk menjemput istri, Noor Afifah, dan anaknya, juga bertemu beberapa volunteer DDHK.
Saat ngobrol bersama teman-teman volunteer DDHK, aku mendengar suara yang tidak asing di telingaku. Beberapa bulan lalu kami bertemu di acara reuni eks volunteer DDHK di Malang.
Mataku pun mencari cari sumber suara itu. Aku semakin yakin, dan bukan mimpi, ternyata suara yg sudah aku kenal itu adalah suara Mbak Nadia Cahyani, eks BMI HK, eks volunteer DDHK, penulis yang pernah mendapatkan penghargaan dan juara 1 di Lomba Bilik Sastra VOI 2011, serta eks Pemimpin Redaksi Majalah Iqro DDHK.Kami pun ngobrol melepas rindu dan berbagi cerita. Tak terasa waktu semakin malam. Jam 9 aku pun pamit pulang.
Dalam perjalanan pulang, di bus, aku tertidur, lalu… “Siuce lei hai pin to lek je a” (Nona, kamu turun di mana?)” Suara laki-laki setengah baya itu membangunkanku. “Tai Po cungsam,” jawabku dengan suara lirih sambil berusaha membuka mata.
Sang sopir itu tersenyum sambil berkata, “To colah” (sudah sampai). Mataku membelalak melihat semua ruangan bus ternyata sudah tidak berpenghuni alis semua penumpang sudah turun, tinggal aku dan supirnya. Aku pun buru-buru turun dari bus dan kuucapkan kepada sang sopir, “sike emkoi sai lei dai jeng ngo” (Pak sopir terima kasih banyak kamu telah membangunkan aku). “Emsae hak he (tidak usah sungkan-sungkan),” jawab sang sopir.
Dalam hatiku, Ya Allah, terima kasih Engkau telah menggerakkan hati sang sopir untuk membangunkanku dari tidur. Seandainya tidak, dan bus dikunci, aku sendirian di dalam bus. Mungkin aku sudah mati kekurangan oksigen. Aku jadi teringat kejadian di berita TV HK, ada anak kecil usia 5 tahun yag meninggal dunia dalam bus. Ia tertinggal dan terkunci di dalam bus. (Lutfiana Wakhid/ddhongkong.org).*
No comments:
Post a Comment